Jumat, 28 Agustus 2009

Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence)


Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence)

Orang tua, orang yang sudah punya anak atau orang yang sudah mulai merasa tua dan karena itu sering dimintai pandangan bagaimana memahami anak-anak atau bahkan hasil dari perilaku seseorang, kiranya perlu menelaah gagasan ini : setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda.

Kecerdasan yang berbeda, maksudnya setiap anak – yang normal secara intelektual tentunya – , pasti punya kecerdasan. Jadi, tidak benar ada anak yang bodoh atau malah dungu. Kesimpulan sederhana saya ini berangkat dari pendekatan Howard Gardner dari Universitas Harvard. Teori Gardner yang diintroduksi tahun 1983 ini untuk mengoreksi teori Intelligences Question (IQ) yang dikembangkan Alfred Binet di tahun 1909 lalu. Menurutnya, setiap orang memiliki satu atau lebih dari delapan jenis kecerdasan yaitu : Linguistik, Matematis-Logis, Spasial, Kinestetik-Jasmani, Musikal, Interpersonal, Intrapersonal dan Naturalis. Jenis kecerdasan yang disebutkan Gardner diatas, penjelasannya sesuai dengan nama jenis kecerdasan tersebut.

1. Kecerdasan Linguistik (word smart) : ini kecerdasan yang terkait dengan kemampuan berbahasa. Baik dalam pengertian memahami sebuah rangkaian kata menjadi kalimat dalam sebuah bahasa tertentu maupun menggunakannya untuk menyampaikan maksud tertentu. Inilah salah satu kecerdasan yang banyak dijadikan acuan dalam test psikologi yang dikembangkan Binet. Ahli bahasa, penterjemah, penyuka sastra, mestilah punya jenis kecerdasan ini.

2. Kecerdasan Matematis-Logis (number smart) : ini kecerdasan yang terkait dengan matematika dan pemikiran logis. Kecerdasan ini pun sering menjadi acuan dalam test psikologi ala Binet. Ilmuwan dan para peneliti pasti memilikinya.

3. Kecerdasan Spasial (picture smart) : kecerdasan ini terkait dengan kemampuan mengekspresikan dunia spasial (ruang) dan kemudian mentransformasikan persepsinya itu. Karena itu kepekaan pada warna, garis, bentuk, ruang, hubungan antar unsur adalah kelebihan yang ada pada kecerdasan ini. Pelukis, arsitek dan para desainer saya kira memang memiliki kecerdasan jenis ini.

4. Kecerdasan Kinestetik-Jasmani (body smart) : kecerdasan menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide-perasaan, keterampilan menggunakan tangan untuk mencipta, dan kemampuan fisik yang spesifik seperti keseimbangan, kekuatan, kelenturan atau kecepatan. Olahragawan, para atlit dibekali kecerdasan ini.

5. Kecerdasan Musikal (music smart) : kecerdasan mengapresiasi berbagai bentuk musik, membedakan, menggubah dan mengekspresikannya. Memiliki kepekaan terhadap irama, pola nada atau melodi dan warna atau nada suara suatu lagu adalah pemilik kecerdasan jenis ini. Komposer, para seniman musik pastiu dianugerahi bakat ini.

6. Kecerdasan Interpersonal (people smart) : kecerdasan dalam mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi serta perasaan orang lain. Memiliki kepekaan terhadap ekspresi wajah, gerak isyarat, kemampuan membedakan berbagai macam tanda interpersonal serta kemampuan mempengaruhi orang lain melakukan sesuatu. Para pemimpin yang kharismatis, orang-orang yang memiliki tingkat pergaulan yang luas, dipastikan memiliki kecerdasan jenis ini.

7. Kecerdasan Intrapersonal (self smart) : kecerdasan dalam memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman itu. Kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen, keinginan, berdisiplin diri dan kemampuan menghargai diri adalah ciri-cirinya. Seseorang dengan kecerdasan ini, tentunya memiliki kepribadian yang stabil.

8. Kecerdasan Naturalis (nature smart) : kecerdasan mengenali dan mengategorikan spesies flora dan fauna di lingkungan sekitar. Kepekaan terhadap fenomena alam lainnya, kemampuan membedakan benda tak hidup dengan benda hidup lainnya termasuk kecerdasan ini. 

Sumbangan terpenting Gardner dibanding Binet sebenarnya adalah bagaimana memahami kemampuan seseorang secara utuh. Delapan kecerdasan diatas saya kira memang sudah bisa dikenali sejak seseorang masih berusia dini. Tinggal bagaimana stimulan yang diberikan orang tua, mampu memberi petunjuk kecerdasan mana yang memang memiliki porsi besar. Seseorang mungkin kuat dalam satu atau dua kecerdasan tertentu, tapi mungkin saja lemah dan bahkan buruk untuk kecerdasan lainnya. Seorang anak yang lahir dalam lingkungan yang sangat kondusif dalam satu kecerdasan tertentu, pada akhirnya akan terkondisi untuk kuat dalam salah satu kecerdasan tersebut. Maka tak heran, dari seorang keluarga yang gemar berenang, lahirlah perenang-perenang yang baik bahkan jika dibekali metode yang tepat, jadilah ia perenang profesional. Yang terpenting, selama sebuah kecerdasan memungkinkan untuk terus dikembangkan, maka tidak ada kata final menilai sebuah kecerdasan. Tidak hanya pada anak, bahkan mungkin pada orang dewasa. Di dunia yang makin kompleks, maka tipologi kecerdasan diatas, harapannya, bukanlah semata-mata untuk keunggulan pribadi dan pada akhirnya hanya memberi keuntungan pribadi, namun sejauh mungkin memberi kontribusi solusi kepada lingkungan. Itulah yang diperlukan Indonesia saat ini.

Oleh JANUAR SETYO WIDODO

Faktor Pendukung Kecerdasan Anak



Faktor Pendukung Kecerdasan Anak 
Anak yang cerdas bukan hanya karena faktor keturunan, banyak hal lain yang bisa medukung anak menjadi pintar. Faktor-faktor pendukung kecerdasan anak itu antara lain dapat diasah dan dibentuk dari dalam diri anak atau dari hasil didikan orang tua. Di bawah ini beberapa contoh yang mendukung kecerdasan anak tersebut: 

Motivasi 

Motivasi adalah bagaimana cara orang tua untuk memberi semangat kepada anak agar mereka mau belajar, karena tanpa hal tersebut maka anak akan menjadi pribadi mudah menyerah dan putus asa sehingga anak menjadi malas untuk belajar. 

IQ (intelectual Quotient) 

Adalah kemampuan seorang anak untuk belajar menggunakan kepintaran otak kiri dan kanannya. Setiap anak mempunyai IQ yang berbeda tergantung dari latihan-latihan dan kemampuan otak nya untuk menyerap pelajaran yang masuk. 

EQ (Emotional Quotient) 

Adalah kemampuan seorang anak untuk mengusai dirinya dan dapat mengendalikan emosi sehingga memiliki kemampuan untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain dan lingkungannya. 

Kecerdasan visual 

Adalah kemampuan seorang anak untuk menuangkan apa yang ada dalam pikirannya kedalam bentuk kreatifitas, misal: Menggambar, mewarnai 

Faktor lingkungan 

Karena lingkungan yang baik dan positif baik dirumah dan sekolah dapat memberikan pengaruh terhadap kepribadian dan perilaku anak untuk membantu mereka mengembangkan kecerdasannya. 

Kecerdasan berkomunikasi 

Melatih anak dalam berkomunikasi yang baik dapat membuat anak belajar dan berani dalam menuangkan pikiran dan gagasanya dalam bentuk kata-kata sehingga dapat melatih anak memiliki kepercayaan diri bila bicara di depan umum. Orangtua dapat memberikan contoh dengan berbicara yang baik dan sopan kepada anak. 

Makanan bergizi 

Orang tua yang memberikan anak gizi yang baik dengan memenuhi makanan 4 sehat 5 sempurna tentu akan membuat anak memiliki tubuh yang kuat,sehat dan perkembangan otak yang sempurna sehingga anak menjadi pintar. 

Membaca 

Memberikan anak buku-buku yang bermanfaat dapat menambah pengetahuan dan wawasannya dan juga melatih anak senang membaca. 

Kemampuan bersosialisasi 

Jangan melarang anak untuk bermain, karena dengan bergaul dengan teman-temannya anak melatih kemampuan mereka untuk berinteraksi dengan orang sehingga medapat mendukung keberhasilannya di masa depan.lain 

Kecerdasan Perilaku 

Seorang anak yang diajarkan untuk berperilaku yang baik dan sopan juga melatih anak untuk menghormati dan menghargai orang lain sehingga anak menjadi pribadi yang menyenangkan bagi orang-orang disekitarnya. Selain semua itu dukungan dan perhatian dari orang tua adalah faktor yang sangat penting dalam membentuk kecerdasan anak, kembangkan kecerdasan anak dari berbagai cara yang positif demi keberhasilan anak dimasa depan.

Selasa, 25 Agustus 2009

Tari Pendet






Tari Pendet
Pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi "ucapan selamat datang", meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius.

Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa.

Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakkan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakkan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.

Tari putri yang memiliki pola gerak yang lebih dinamis dari tari Rejang yang dibawakan secara berkelompok atau berpasangan, ditampilkan setelah tari Rejang di halaman pura dan biasanya menghadap ke arah suci (pelinggih) dengan mengenakan pakaian upacara dan masing-masing penari membawa sangku, kendi, cawan dan perlengkapan sesajen lainnya.
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas 

Senin, 24 Agustus 2009

"Peran Komputer Bagi Pendidikan Anak"




Pada awalnya komputer dititikberatkan pada proses pengolahan data, tetapi karena teknologi yang sangat pesat, saat ini teknologi komputer sudah menjadi sarana informasi dan pendidikan khususnya teknologi internet. Dalam hal pendidikan, komputer dapat dipergunakan sebagai alat bantu (media) dalam proses belajar mengajar baik untuk guru maupun siswa yang mempunyai fungsi sebagai Media tutorial, alat peraga dan juga alat uji dimana tiap fungsi tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. 

Sebagai media tutorial, komputer memiliki keunggulan dalam hal interaksi, menumbuhkan minat belajar mandiri serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa / anak. Tetapi interaksi komputer dengan manusia belum dapat menggantikan interaksi manusia dengan manusia, selain itu mempunyai kelemahan lain yaitu kemauan belajar mandiri yang masih rendah. Komputer sebagai alat uji memiliki keunggulan dalam keobyektifan, ketepatan dan kecepatan dalam penghitungan tetapi masih belum dapat menilai soal-soal essai, pendapat dan hal yang terkait dengan moral dan etika. Yang terakhir, sebagai media alat peraga, komputer mempunyai kelebihan dapat memperagakan percobaan tanpa adanya resiko, tetapi membutuhkan waktu dalam pengembangannya. 

Sebelum memperkenalkan komputer kepada anak, orangtua maupun guru seharusnya dapat memahami perkembangan pemahaman anak, dimana pada usia 0 -2 tahun anak mendapatkan pemahamannya dari penginderaannya. Kemudian usia 2 - 7 tahun anak mulai belajar menggunakan bahasa, angka dan simbol-simbol tertentu. Pada usia 7 - 12 tahun anak mulai dapat berpikir logis, terutama yang berhubungan dengan obyek yang tampak langsung olehnya. 

Yang saat ini perlu menjadi perhatian bagi orangtua maupun guru adalah bagaimana cara memperkenalkan komputer kepada anak. Hal yang perlu dicoba adalah dengan program-program aplikasi (software) yang bersifat "Edutainment" yaitu perpaduan antara education (pendidikan) dan entertainment (hiburan). Selain itu program (software) aplikasi "Edutainment" tersebut mempunyai kemampuan menumbuhkembangkan kreatifitas dan imajinasi anak serta melatih saraf motorik anak. Contohnya program permainan kombinasi benda, menyusun benda atau gambar (Puzzle) serta program berhitung dan software-software lain yang didukung perangkat multimedia. 

Selain program aplikasi (software), dunia internet semakin berarti bagi anak-anak. Internet memungkinkan anak mengambil dan mengolah ilmu pengetahuan ataupun informasi dari situs-situs yang dikunjunginya tanpa adanya batasan jarak dan waktu. Di samping itu masih ada manfaat lain yang didapat dari internet, misalnya surat menyurat (E-mail), berbincang (chatting), mengambil dan menyimpan informasi (download). 

Untuk perkembangan pendidikan selanjutnya teknologi "Teleconference" (Konferensi interaktif secara on line dari jarak jauh) dirasakan sudah pantas di coba dan dikembangkan, karena dapat menghemat waktu, tenaga pengajar, kapasitas ruang belajar serta tidak mengenal letak geografis.


Mengenal Aphasia




Aphasia adalah kehilangan kemampuan untuk berbicara dan mengerti pembicaraan karena kelainan pada otak. Anak yang menderita Aphasia sejak lahir mengalami kesulitan dengan bahasa ucapan. Mereka yang Receptive Aphasia mempunyai kesulitan yang parah dalam mengerti kata-kata dan mengerti percakapan. Anak dengan Executive Aphasia dapat mengerti dengan cukup baik tetapi mempunyai kesulitan membuat kata-kata untuk dirinya sendiri. 

Anak yang Receptive Aphasia kelihatannya dapat membingungkan dengan anak yang autistic khususnya bila mereka sudah sama-sama remaja karena mereka juga cenderung untuk mengabaikan suara dan menjadi anak yang menyendiri. Anak yang Executive Aphasia biasanya lebih responsif dan lebih memasyarakat, tapi mereka memiliki kesulitan yang sama dengan anak yang autistic dalam menirukan gerakan orang lain dan dalam berbicara. 

Kedua kelompok anak yang menderita aphasia ini berbeda dengan anak yang autistic dalam hal dimana mereka menggunakan mata untuk membantu memahami dunia, dan mereka dapat berkomunikasi dengan baik dengan menggunakan cara non-verbal (tanpa kata-kata). Mungkin juga diketemukan anak yang aphasia dengan cacat tambahan yang sangat mirip dengan anak yang autistic. Receptive dan executive aphasia merupakan dua dari sekian banyak kekurangan-kekurangan yang muncul pada anak yang autistic. Aphasia dan autism saling membayangi satu sama lain, sehingga sangat sulit untuk mengatakan dalam kelompok yang mana seorang anak harus ditempatkan. 

Sumber : www.iqeq.web.id


Mengenal Autisme





Secara garis besar, Autisme, adalah gangguan perkembangan khususnya terjadi pada masa anak-anak, yang membuat seseorang tidak mampu mengadakan interaksi sosial dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Pada anak-anak biasa disebut dengan Autisme Infantil. Selain Autisme juga dikenal istilah Schizophrenia yang juga merupakan gangguan yang membuat seseorang menarik diri dari dunia luar dan menciptakan dunia fantasinya sendiri seperti: berbicara, tertawa, menangis, dan marah-marah sendiri. 

Tetapi ada perbedaan yang jelas antara penyebab dari Autisme pada penderita Schizophrenia dan penyandang autisme infantil. Schizophrenia disebabkan oleh proses regresi karena penyakit jiwa, sedangkan pada anak-anak penyandang autisme infantil terdapat kegagalan perkembangan. Gejala autisme infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak, gejala-gejala itu sudah ada sejak lahir. Seorang Ibu yang sangat cermat memantau perkembangan anaknya bisa melihat beberapa keganjilan sebelum anaknya mencapai usia 1 tahun. Yang sangat menonjol adalah tidak adanya atau sangat kurangnya tatap mata. 

Untuk memeriksa apakah seorang anak menderita autis atau tidak, digunakan standar internasional tentang autisme. ICD-10 (International Classification of Diseases) 1993 dan DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual) 1994 merumuskan kriteria diagnosis untuk Autisme Infantil yang isinya sama, yang saat ini dipakai di seluruh dunia. Kriteria tersebut adalah : Harus ada sedikitnya 6 gejala dari (1), (2), dan (3) seperti di bawah ini, dengan minimal 2 gejala dari (1) dan masing-masing 1 gejala dari (2) dan (3). 

Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang timbal balik. 
Minimal harus ada 2 dari gejala di bawah ini : 
Tak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai : kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak gerik kurang tertuju 
Tidak bisa bermain dengan teman sebaya 
Tak ada empati (tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain) 
Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik
Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi. 
Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini : 
Perkembangan bicara terlambat atau sama sekali tak berkembang. Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal 
Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi 
Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang-ulang 
Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru 
Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat, dan kegiatan.
Minimal harus ada 1 dari gejala di bawah ini : 
Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan 
Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak ada gunanya 
Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang 
Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda 

Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang (1) interaksi sosial, (2) bicara dan berbahasa, dan (3) cara bermain yang monoton, kurang variatif. Bukan disebabkan oleh Sindroma Rett atau Gangguan Disintegratif Masa Kanak. Namun kemungkinan kesalahan diagnosis selalu ada, terutama pada autisme ringan. Hal ini biasanya disebabkan karena adanya gangguan atau penyakit lain yang menyertai gangguan autis yang ada, seperti retardasi mental yang berat atau hiperaktivitas. Autisme memiliki kemungkinan untuk dapat disembuhkan, tergantung dari berat tidaknya gangguan yang ada. Berdasarkan kabar terakhir, di Indonesia ada 2 penyandang autis yang berhasil disembuhkan, dan kini dapat hidup dengan normal dan berprestasi. Di Amerika, di mana penyandang autisme ditangani secara lebih serius, persentase kesembuhan lebih besar. 

Sumber : Simposium Autisme Masa Kanak (Semarang, 24-10-1998)


Kamis, 20 Agustus 2009

"Pengaruh Permainan pada Perkembangan Anak"











Bermain merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Ada orang tua yang berpendapat bahwa anak yang terlalu banyak bermain akan membuat anak menjadi malas bekerja dan bodoh. Pendapat ini kurang begitu tepat dan bijaksana, karena beberapa ahli psikologi mengatakan bahwa permainan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa anak.
Faktor-faktor yang mempengaruhi permainan anak :
1. Kesehatan
Anak-anak yang sehat mempunyai banyak energi untuk bermain dibandingkan dengan anak-anak yang kurang sehat, sehingga anak-anak yang sehat menghabiskan banyak waktu untuk bermain yang membutuhkan banyak energi.
2. Intelligensi
Anak-anak yang cerdas lebih aktif dibandingkan dengan anak-anak yang kurang cerdas. Anak-anak yang cerdas lebih menyenangi permainan-permainan yang bersifat intelektual atau permainan yang banyak merangsang daya berpikir mereka, misalnya permainan drama, menonton film, atau membaca bacaan-bacaan yang bersifat intelektual.
3. Jenis kelamin
Anak perempuan lebih sedikit melakukan permainan yang menghabiskan banyak energi, misalnya memanjat, berlari-lari, atau kegiatan fisik yang lain. Perbedaan ini bukan berarti bahwa anak perempuan kurang sehat dibanding anak laki-laki, melainkan pandangan masyarakat bahwa anak perempuan sebaiknya menjadi anak yang lembut dan bertingkah laku yang halus.
4. Lingkungan
Anak yang dibesarkan di lingkungan yang kurang menyediakan peralatan, waktu, dan ruang bermain bagi anak, akan menimbulkan aktivitas bermain anak berkurang.
5. Status sosial ekonomi
Anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang status sosial ekonominya tinggi, lebih banyak tersedia alat-alat permainan yang lengkap dibandingkan dengan anak-anak yang dibesarkan di keluarga yang status ekonominya rendah.
Pengaruh bermain bagi perkembangan anak : Bermain mempengaruhi perkembangan fisik anak Bermain dapat digunakan sebagai terapi Bermain dapat mempengaruhi dan menambah pengetahuan anak Bermain mempengaruhi perkembangan kreativitas anak Bermain dapat mengembangkan tingkah laku sosial anak Bermain dapat mempengaruhi nilai moral anak




Macam-macam permainan dan manfaatnya bagi perkembangan jiwa anak
A. Permainan Aktif

1. Bermain bebas dan spontan
Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru.





2. Sandiwara
Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media.
3. Bermain musik
Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, atau memainkan alat musik.
4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu
Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing.
5. Permainan olah raga
Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif.




B. Permainan Pasif
1. Membaca
Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya.
2. Mendengarkan radio
Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.
3. Menonton televisi
Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya

Selasa, 18 Agustus 2009

Upacara Peringatan Dirgahayu Republik Indonesia 2009






Sudah menjadi agenda rutin tahunan di Keluarga Besar Yayasan Dapena Surabaya melakukan Upacara Bendera untuk memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pada kesempataan ini Upacra Bendera dilaksanakan di SD. Dapena Jl. Dinoyo 33, Surabaya, yang iikuti oleh seluruh Keluarga Besar Yayasan Dapena ( Sekolah Dapena ), Siswa - siswi perwakilan Sekolah SD/SMP/SMA, Guru dan Karyawan aktif - Pengurus Yayasan, serta undangan yakni, mantan guru, karyawan dan pengurus, acara ini juga dimaksudkan sebagai silaturahmi antar guru dan karyawan, pengurus, serta mantan guru, karyawan dan pengurus yayasan Dapena.
Yang menarik dalam upacara ini adalah ditampilkannya paduan suara dari siswa - siswi SD Dapena Surabaya dibawah bimbingan ibu Toety Soekonjoto yang membawakan lagu perjuangan ( Bagimu Negeri, 17 Agustus 1945 ) serta lagu nasional ( Yamko Rambe Yamko - Papua ) dengan diiringi gerak serta aransemen musik yang rancak dan menarik sesuai tema lagunya.
Upacara dilaksanakan mulai pukul 7.00wib dan selesai pukul 8.00wib dan dilanjutkan dengan acara ramah tamah. ( oleh Pembina Upacara Ibu Miniyawati Liong - komisi SD Dapena / Wk. Ketua Yayasan Dapena , sera Komandan Upacara Bp. Joko S. - SMP Dapena 2 )

Sabtu, 15 Agustus 2009

Pendidikan Plus


Pendidikan anak dewasa ini semakin menjadi perhatian utama dan prioritas para orang tua. Ada beberapa penyebab : Kesadaran akan pentingnya “bersekolah” dan kesadaran akan arti “sekolah”, namun tidak jarang ada pula penyebab lain, yakni ingin menyerahkan beban pendidikan / tugas pendidikan ke sekolah (dan para pendidik) – entah karena memahami adanya “value added” di sekolah, atau karena frustrasi, sulit mengarahkan anaknya sendiri di rumah (jadi biar tidak pusing-pusing, anaknya di sekolahkan saja)… 

Apapun alasan kita para orang tua dalam menyekolahkan anak, seyogyanya kita memahami prinsip bahwa : Keluarga adalah tempat pertama dan utama pendidikan seorang anak. Keluarga = sekolah plus. Selama ini, kita mencari sekolah plus, untuk bisa mengatasi “kekurangan” yang ada di rumah atau di dalam pola asuh kita terhadap anak. Namun, kita sering lupa, setelah kita memasukkan anak ke sekolah “plus”, kita tidak mempelajari dan mengambil “nilai plus-nya” untuk diterapkan di rumah. Akibatnya, di rumah tetap minus dan “plus”-nya tertinggal di sekolah. 

Konsekuensi 

Ketika musim sekolah telah berjalan, timbul beberapa kesulitan dan masalah – yang tanpa sadar merupakan dampak dari tertinggalnya nilai “plus” di sekolah. 
Problem belajar 
Problem motivasi 
Problem perilaku 
Problem emosional 
Problem sosial 
Problem nilai 

Apa yang harus dilakukan? 

Orang tua perlu mencari benang merah dan sinkronisasi beberapa hal yang utama, yang membantu anak mengembangkan hal-hal dasar dalam kepribadiannya. Sebagaimana orang tua memilih sekolah yang sesuai dengan orientasi nilai dan harapan mereka, begitu juga orang tua seyogyanya mengadaptasikan pola-pola pendidikan yang konstruktif dan positif dari sekolah. Paling tidak, di antara keduanya, saling mengisi – dan bukan saling meniadakan. Untuk itu lah, komunikasi orang tua dengan anak, dan komunikasi antara orang tua dengan pihak sekolah, menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Kita tidak bisa bersikap “tahu beres” baik terhadap anak maupunn pihak sekolah. 

Karena, ketika terjadi ketidakberesan, kita tidak bisa semata-mata menunjuk pihak sekolah sebagai “biang keladi” dari persoalan yang dihadapi anak. Bisa saja persoalan dimulai / terjadi di sekolah, namun kita harus melihatnya secara bijaksana, karena reaksi seorang anak terhadap sesuatu, sangat dipengaruhi oleh proses belajar yang dilaluinya dan pola asuh yang paling mendominasi bentukan sikap dan kepribadiannya. 

Jadi, keluarga, adalah tempat utama pendidikan dan pengembangan seorang anak. Sekolah, pada dasarnya mengarahkan, memberikan bimbingan dan kerangka – bagi anak untuk belajar, bertumbuh dan berkembang. Sementara keluarga, justru menjadi center of education yang utama, pertama dan mendasar.


Kamis, 13 Agustus 2009

KITA KERJA, YUK!


KITA KERJA, YUK! 
Kendati masih balita, dia sudah bisa diajak kerja, lo. Selain akan menumbuhkan rasa tanggungjawab, juga baik untuk kepribadiannya kelak. Tapi, pekerjaan apa yang pantas dilakukan si kecil dan bagaimana cara melatihnya? Ketika sedang bersih-bersih rumah, si kecil yang berusia 4 tahun nyeletuk, "Bunda, aku mau nyapu." Nah, apa rekasi reaksi Anda? Kebanyakan, sih, akan mengatakan, "Nggak usah, biar Bunda saja. Kamu, kan, masih kecil." Tentu saja jawaban itu tidak bertujuan melecehkan si kecil karena kita tahu persis, ia belum bisa melakukan hal itu. 

Tapi pernahkah terpikir oleh kita, jawaban macam itu justru akan ditangkap anak sebagai, "Saya tak mampu. Buktinya, Bunda nggak percaya padaku." Nah, berabe, kan, jika anak sudah punya anggapan bahwa dirinya tak mampu (dan "vonis" itu dijatuhkan oleh ibu)? Sebab itulah, para ahli tak setuju bila ayah dan ibu cenderung melarang atau menolak kala anak menunjukkan minatnya terhadap suatu pekerjaan. Selain akan menumbuhkan perasaan tak mampu, harga diri si kecil juga terluka. Apa pun juga, anak tetap memerlukan perasaan dihargai bahwa ia mampu melakukan sesuatu. Dengan kata lain, berilah ia kesempatan meski kita tahu persis, ia tak bisa melakukannya dengan sempurna. 

TIDAK MANDIRI 

Melatih anak bekerja, ujar psikolog Zahrasari Lukita Dewi, S.Psi., sangat bermanfaat bagi kehidupan anak kelak. Selain anak mengenal kemampuannya, ia juga jadi tahu bahwa setiap individu punya tanggung jawab. Minimal, terhadap dirinya sendiri atas apa yang ia lakukan atau yang ia miliki. Ia pun jadi tahu disiplin, kapan waktu main, belajar, dan bekerja. "Bila anak tak pernah dilatih bekerja, ia tak pernah belajar tentang apa yang harus dilakukannya dan mengapa," ujar Zahra. Apalagi bila orang tua sampai mengatakan, "Kamu mau gosok gigi atau tidak? Kamu sendiri, lo, yang nanti merasakan akibatnya." Ujaran macam ini hanya akan menumbuhkan sikap tidak percaya diri bahwa ia dapat mengerjakannya. 

Begitu pula jika kita cenderung memanjakan anak. Saking sayangnya, anak disediakan sejumlah "asisten" yang selalu siap membantunya. Mau pakai sepatu, tinggal sodorkan kaki. Mau makan, tinggal buka mulut. "Sungguh, ini bukan kebiasaan baik. Anak menjadi kurang mandiri, tak punya rasa tanggung jawab, dan amat bergantung pada orang lain," ingat Zahra. Tak jadi soal bila hasil kerja si kecil masih belum baik atau rapi. Memang bukan itu, kok, yang terpenting, melainkan penanaman pola kebiasaan tertentu pada anak. Jadi bukan agar anak bisa melipat selimut dengan rapi, tapi membiasakannya melipat selimut. "Lebih pada membiasakan anak untuk disiplin dan bertanggung jawab terhadap kepentingan dirinya dan apa yang ia lakukan," terang Zahra. 

ABAIKAN JENIS KELAMIN 

Jadi, Anda setuju, bukan, melatih anak bekerja? Nah, sebelum melatih, menurut Zahra, perhatikan dulu usia si kecil. Sebab lewat usia, kita bisa mengetahui sejauh mana kemampuan anak. Baik secara fisik, emosional, dan sosial. "Sejak anak sudah bisa berinteraksi dengan dunia di luar dirinya dan secara fisik sudah kuat, berarti ia sudah bisa dilatih bekerja untuk hal-hal yang sifatnya harus dibentuk. Biasanya di usia prasekolah, yaitu 3 sampai 5 tahun," terangnya. Pekerjaan apa yang cocok baginya? Yang utama adalah yang berkaitan dengan diri si anak sendiri. Mulai dari bangun tidur, mau pergi "sekolah", pulang "sekolah". Seperti belajar mandi, menyabuni badan, memakai sepatu, dan menyisir rambut. Semua itu dilakukan tanpa bantuan orang lain. 

Selanjutnya, sesuai usia dan kemampuan si anak, jenis pekerjaannya makin diperlebar. Semisal merapikan tempat tidur, membantu di dapur, di kebun, membantu mencuci mobil, dan sebagainya. Yang tak kalah penting, sambung Zahra, "Sebaiknya pekerjaan yang ditugaskan pada anak, jangan dibedakan berdasar jenis kelamin!" Bahwa ada yang dinamakan pekerjaan lelaki dan pekerjaan perempuan, itu semata karena faktor budaya. "Jadi, tak ada salahnya anak lelaki dilatih menyapu dan membantu di dapur atau anak perempuan diajak mencuci mobil. Setiap anak harus tahu, apa yang ia lakukan merupakan bagian dari tanggung jawabnya," tuturnya. 

Lagipula dengan mendorong anak mempelajari berbagai pekerjaan akan membuatnya memiliki sikap lebih terbuka dan mudah menyesuaikan diri. "Anak akan mampu mengurus diri sendiri bila kelak dewasa. Juga akan lebih menghargai pekerjaan orang lain," terang staf pengajar pada Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya Jakarta ini. 

BERI CONTOH 

Saat melatih si kecil bekerja, orang tua diminta tak hanya sekedar menyuruh atau memberi perintah. Apalagi terhadap anak usia 3 tahun yang masih belum memahami arti perintah. Ia belum sepenuhnya mengerti apa yang harus dilakukan sesuai perintah. "Ajak ia bekerja sambil kita memberi contoh!" kata Zahra. Misalnya saat mengajaknya menggosok gigi, katakan, "Ambil dulu airnya. Sekarang sikat giginya diberi odol..." 

Selain itu, anak usia prasekolah sedang kuat-kuatnya meniru. Mereka tertarik terhadap apa yang dilakukan orang tuanya dan kemudian menirunya. Jika Anda memintanya untuk menyikat gigi sebelum tidur sementara si anak tak pernah melihat Anda melakukannya, besar kemungkinan ia akan menolak. Dalam memberi contoh, kita tak harus secara jelas meminta anak untuk memperhatikan. Misal, "Lihat, nih, Mama sedang menyikat gigi," atau, "Lihat, nih, Mama sedang menyapu." Sebab, meski anak tak melihat langsung, tapi sebenarnya ia diam-diam mengamati. 

Yang juga harus diperhatikan, tambah Zahra, beri ia penjelasan mengapa ia harus melakukan sesuatu pekerjaan. "Anak usia 3 tahun biasanya tak banyak bertanya bila diminta melakukan sesuatu. Paling sering ia bertanya, kenapa? Beda dengan anak usia 4-5 tahun, seringkali bertanya dan pertanyaannya pun lebih dalam. Kenapa harus rapi? Kalau tidak rapi bagaimana? Ia pun suka meminta pendapat orang tuanya akan apa yang ia lakukan. Apakah boleh melakukannya begini atau begitu," paparnya. 

KOREKSI DIRI 

Sering terjadi anak merajuk dan malas atau menolak tugas. Ini wajar saja dalam membentuk pola mengingat anak usia 3-5 tahun belum terbentuk polanya. Anak pun belum tahu persis manfaat langsung bagi dirinya. "Seusia itu anak masih hedonis, masih bersenang-senang dan bermain-main, melakukan apa yang enak buat dirinya," terang Zahra. Yang penting, jangan bosan memberinya pengertian. "Kalau kamu tidak menyikat gigimu, nanti gigimu bisa rusak." Jadi, anak harus tahu bahwa sesuatu ada konsekuensinya. Begitu pun kala anak melakukan kesalahan atau gagal dalam pekerjaannya. "Beri tahu apa yang seharusnya ia lakukan dan bagaimana melakukannya dengan benar," nasehat Zahra. 

Jangan menghukum anak karena hukuman tak memberi tahu pada anak mengenai "apa yang harus dilakukan" sebagai ganti atas "apa yang tak boleh dilakukan". Toh, kita belum bisa menjamin, pola yang kita bentuk itu sudah terjadi, karena anak masih dalam taraf belajar atau latihan. Di sisi lain, orang tua harus rajin melakukan koreksi diri. Mungkin saja kegagalan anak melakukan suatu tugas, karena pekerjaan itu melebihi batas kemampuannya. Anak usia 3 tahun, misalnya, disuruh menyemir sepatu. Tentu kita tak bisa berharap ia akan melakukannya dengan baik. Atau anak umur 5 tahun belum bisa mandi sendiri. Boleh jadi karena sebelumnya Anda tak pernah melatih si kecil mandi sendiri. Maka jangan katakan, "Sudah besar, kok, enggak bisa mandi sendiri!" atau memarahinya. Nah, mulailah melatihnya dan membiasakan ia mandi sendiri. 

Menuntut anak melakukan suatu pekerjaan yang belum pernah diajarkan kepadanya maupun yang melebihi batas kemampuannya, hanya akan membuatnya frustrasi. Akibatnya, anak memaksakan dirinya untuk melakukan daripada dimarahi atau dihukum ayah/ibunya. Atau sebaliknya, anak menolak sama sekali. 

PERLU HADIAH 

Sebaliknya bila anak melakukan pekerjaan dengan baik, berilah pujian secara spontan. Katakan, "Lihat, tempat tidurmu jadi rapi. Kamu berhasil melakukannya." Atau, "Wah, gigimu putih bersih. Itu karena kamu rajin sikat gigi." Pujian, menurut Zahra, bukanlah imbalan melainkan sebagai penguat. Anak akan senang bahwa apa yang ia lakukan dihargai. Ini akan mendorongnya untuk melakukan tingkah laku itu lagi. Apalagi anak usia ini suka sekali mengatakan, "Ibu, aku pintar, kan? Aku bisa, kan?" 

Pujian juga bisa disertai ungkapan afeksi seperti pelukan, ciuman, usapan kepala, tepukan di bahu, dan sebagainya. "Ungkapan afeksi ini merupakan pendorong yang paling penting dapat kita berikan kepada anak," kata Zahra. Bagaimana dengan imbalan hadiah? Misal, anak dijanjikan akan dibelikan mobil-mobilan atau jalan-jalan ke Dunia Fantasi apabila ia bisa merapikan tempat tidurnya? Zahra agak keberatan. "Sepertinya, kok, enggak sebanding, ya," ujarnya. Zahra berpendapat, hadiah lebih pantas diberikan untuk hal-hal yang sifatnya mengandung prestasi yang harus diraih anak. Misalnya jika nilai menggambarnya bagus atau ia berani tampil menyanyi di depan kelas. Sehingga anak akan berusaha untuk memperjuangkannya. 

Bila kita terlalu mengumbar hadiah yang sifatnya cukup berharga, Zahra khawatir anak akan terlalu biasa dan sangat menantikannya. Akibatnya, satu ketika kita bakal kebingungan sendiri. "Sesekali bolehlah kita berikan yang kecil-kecil seperti es krim atau makanan favorit anak," katanya. Itu pun dalam keadaan, misalnya anak merajuk, banyak hal yang sudah dikerjakan, atau tugas tersebut agak susah dan saat itu ia ingin es krim. Katakan saja, "Ya, nanti Mama belikan es krim. Tapi bereskan dulu, dong, tempat tidurnya." Biasanya anak mau. Tapi tentunya jangan sampai hal ini menjadi kebiasaan. Karena bisa-bisa, anak mau melakukan suatu pekerjaan hanya karena ia ingin mendapatkan imbalan. Celaka, kan? 

Sumber : Tabloid Nakita

Faktor Pendukung Kecerdasan Anak


Faktor Pendukung Kecerdasan Anak 
Anak yang cerdas bukan hanya karena faktor keturunan, banyak hal lain yang bisa medukung anak menjadi pintar. Faktor-faktor pendukung kecerdasan anak itu antara lain dapat diasah dan dibentuk dari dalam diri anak atau dari hasil didikan orang tua. Di bawah ini beberapa contoh yang mendukung kecerdasan anak tersebut: 

Motivasi 

Motivasi adalah bagaimana cara orang tua untuk memberi semangat kepada anak agar mereka mau belajar, karena tanpa hal tersebut maka anak akan menjadi pribadi mudah menyerah dan putus asa sehingga anak menjadi malas untuk belajar. 

IQ (intelectual Quotient) 

Adalah kemampuan seorang anak untuk belajar menggunakan kepintaran otak kiri dan kanannya. Setiap anak mempunyai IQ yang berbeda tergantung dari latihan-latihan dan kemampuan otak nya untuk menyerap pelajaran yang masuk. 

EQ (Emotional Quotient) 

Adalah kemampuan seorang anak untuk mengusai dirinya dan dapat mengendalikan emosi sehingga memiliki kemampuan untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain dan lingkungannya. 

Kecerdasan visual 

Adalah kemampuan seorang anak untuk menuangkan apa yang ada dalam pikirannya kedalam bentuk kreatifitas, misal: Menggambar, mewarnai 

Faktor lingkungan 

Karena lingkungan yang baik dan positif baik dirumah dan sekolah dapat memberikan pengaruh terhadap kepribadian dan perilaku anak untuk membantu mereka mengembangkan kecerdasannya. 

Kecerdasan berkomunikasi 


Melatih anak dalam berkomunikasi yang baik dapat membuat anak belajar dan berani dalam menuangkan pikiran dan gagasanya dalam bentuk kata-kata sehingga dapat melatih anak memiliki kepercayaan diri bila bicara di depan umum. Orangtua dapat memberikan contoh dengan berbicara yang baik dan sopan kepada anak. 

Makanan bergizi 

Orang tua yang memberikan anak gizi yang baik dengan memenuhi makanan 4 sehat 5 sempurna tentu akan membuat anak memiliki tubuh yang kuat,sehat dan perkembangan otak yang sempurna sehingga anak menjadi pintar. 

Membaca 

Memberikan anak buku-buku yang bermanfaat dapat menambah pengetahuan dan wawasannya dan juga melatih anak senang membaca. 

Kemampuan bersosialisasi 

Jangan melarang anak untuk bermain, karena dengan bergaul dengan teman-temannya anak melatih kemampuan mereka untuk berinteraksi dengan orang sehingga medapat mendukung keberhasilannya di masa depan.lain 

Kecerdasan Perilaku 

Seorang anak yang diajarkan untuk berperilaku yang baik dan sopan juga melatih anak untuk menghormati dan menghargai orang lain sehingga anak menjadi pribadi yang menyenangkan bagi orang-orang disekitarnya. Selain semua itu dukungan dan perhatian dari orang tua adalah faktor yang sangat penting dalam membentuk kecerdasan anak, kembangkan kecerdasan anak dari berbagai cara yang positif demi keberhasilan anak dimasa depan.


Rabu, 12 Agustus 2009

indikator Anak Berbakat

Orang tua mana yang tak ingin punya anak berbakat? Bagaimana, sih, cara mendeteksi bakat si cilik? "Anak sulung saya luar biasa aktif. Dia juga pintar dan suka sekali bertanya. Kadang, pertanyaannya bikin kami kewalahan. Teman-teman saya bilang, si sulung termasuk anak berbakat," tutur Andika, ayah dua anak tentang putra sulungnya yang berusia 4 tahun. Banyak orang dengan mudah menyimpulkan si A, si B, atau si C anak berbakat. Entah karena ia selalu jadi juara kelas, juara lomba, dan sebagainya. Bahkan, anak yang belum pernah menunjukkan prestasinya di bidang tertentu pun, sering dikatakan anak berbakat. Misalnya, suaranya merdu saat menyanyi. Sebenarnya, seperti apa sih, yang dimaksud anak berbakat? 

Beda Pintar & Berbakat 

Menurut pakar psikologi pendidikan, Prof. Dr. S.C. Utami Munandar, anak berbakat berbeda dengan anak pintar. "Bakat berarti punya potensi. Sedangkan pintar bisa didapat dari tekun mempelajari sesuatu," jelasnya. Tapi meski tekun namun tak berpotensi, seseorang tak akan bisa optimal seperti halnya anak berbakat. "Kalau anak tak berbakat musikal, misalnya. Biar dikursuskan musik sehebat apa pun, ya, kemampuannya sebegitu-begitu saja. Tak akan berkembang." "Sebaliknya, jika anak berbakat tapi lingkungannya tak menunjang, ia pun tak akan berkembang." Soal bakat musik tadi, misalnya. Jika di rumah tak ada alat-alat musik, bakatnya akan terpendam," jelas guru besar tetap Fakultas Psikologi UI ini. 

Pada anak hiperaktif, jelasnya,"Konsentrasinya kurang terfokus. Jadi, hanya gerak fisiknya yang aktif tapi tak menunjukkan kelincahan intelektual. Aktivitasnya pun sering tanpa tujuan." Kendati dia suka bertanya, tapi tak berkonsentrasi pada jawabannya. Konsentrasinya mudah buyar jika ada hal lain yang menarik perhatiannya. Lain hal dengan anak berbakat. "Jika ia lari ke sana-sini, pasti ada tujuannya. Jika ia tertarik pada sesuatu, ia akan duduk diam dalam waktu yang lama, asyik sendiri mengerjakan sesuatu," terang Ketua Yayasan Indonesia untuk Pendidikan dan Pengembangan Anak Berbakat ini. 

Perkembangan Lebih Cepat 

Bakat anak, lanjut Utami, berkaitan dengan kerja belahan otak kiri dan kanan. Belahan otak kanan berhubungan dengan kreativitas, imajinasi, intuisi. Sedangkan belahan yang kiri untuk kecerdasan. Nah, anak berbakat umumnya menunjukkan IQ di atas rata-rata, yaitu minimal 130. "Namun tak berarti anak dengan IQ rata-rata, yaitu 90-110, tak akan berbakat," tukas Utami. Anggapan orang bahwa IQ menetap seumur hidup, menurutnya, sama sekali tak benar. "Ada, kok, anak yang sebelumnya ber-IQ di bawah rata-rata, tapi dengan stimulasi dan pendekatan yang baik bisa berubah jadi di atas rata-rata," paparnya. 

Tapi IQ bukan satu-satunya yang menentukan seorang anak disebut berbakat atau tidak. Masih ada faktor lain lagi, yaitu CQ atau kreativitas, yang juga harus di atas rata-rata, minimal 250. Selain itu, tambah Utami, "Ia juga harus memiliki task commitment, yakni kemampuan pengikatan diri terhadap tugas atau motivasi. Jadi, ada keinginan dan ketekunan untuk menyelesaikan sesuatu." 

Nah, untuk mendeteksi apakah seorang anak berbakat atau tidak, menurut Utami, bisa dilihat dari perkembangan motoriknya. Anak berbakat, perkembangan motoriknya lebih cepat dibanding anak biasa. Entah dalam berbicara, berjalan, maupun membaca. Misalnya, umur 9 bulan sudah bisa jalan (normalnya, usia 12,5 bulan). Selain itu, ia juga cepat dalam memegang sesuatu dan membedakan bentuk serta warna. Untuk kemampuan membaca, kadang anak berbakat memperolehnya dari belajar sendiri. Yaitu dari mengamati dan menghubung-hubungkan. Misalnya dari memperhatikan lalu-lintas, teve, atau buku. 

Anak berbakat juga senang bereksplorasi atau menjajaki. "Jadi, kalau ia mempreteli barang-barang, bukan karena dia nakal tapi karena rasa ingin tahunya," terang Utami. Tentang rasa ingin tahu yang tinggi ini, terangnya lebih lanjut, memang pada umumnya dimiliki anak kecil. Hanya, pada anak berbakat, cara mengamatinya lebih kental dibanding anak-anak biasa. Hal lain yang menjadi karakteristik anak berbakat ialah bicaranya bisa sangat serius. Pertanyaannya sering menggelitik dan tak terduga. Kadang ia tak puas dengan jawaban yang diberikan, sehingga terus berusaha mencari jawaban-jawaban lain. 

Pentingnya Stimulasi Lingkungan 

Meski demikian, Utami menyarankan orang tua tak lantas mudah melakukan generalisasi. "Mentang-mentang perkembangan motorik anaknya lambat, lantas dikira tak berbakat. Belum tentu, lo," katanya. Sebab, perkembangan setiap anak berbeda. Ada yang cepat dalam perkembangan bicara dan bahasanya tapi motoriknya lambat, dan sebagainya. "Bisa saja terjadi, anak yang dulu perkembangan bicaranya lambat, ternyata ketika besar menjadi sarjana sastra yang terkenal," ujarnya. Dengan kata lain, meski perkembangannya lambat, bisa saja nantinya ia berkembang menjadi anak berbakat dan mengejar ketinggalannya. Hanya saja, hal itu tak akan terjadi dengan sendirinya. "Semuanya tergantung dari lingkungan. Bagaimana stimulasi lingkungan akan sangat mempengaruhi perkembangan bakat anak," tukas Utami. Semakin dini orang tua memberikan stimulasi, akan semakin baik. Misalnya, dengan mengajak anak bercakap-cakap sejak ia masih bayi. "Banyak orang tua menganggap, bayi belum mengerti apa-apa sehingga belum perlu diajak bicara." 

Padahal, mengajak anak sering-sering berbicara sangat perlu. "Itu akan merangsang perkembang bahasanya dan berarti membuatnya terangsang untuk berbicara," tutur Utami. Begitu juga untuk mengembangkan keinginan anak akan eksplorasi. Sejak usia bayi hal ini sudah dapat dilakukan. Misalnya, tempat tidur bayi tak dibiarkan kosong melompong, tapi "diisi" dengan mainan gantung yang dapat merangsangnya. "Sesekali, dekatkan benda-benda yang terang ke dekat matanya agar ia bisa melihat jelas atau menyentuhnya. Ini sama dengan melatih koordinasi antara tangan dan matanya," kata Utami. Selain itu, tambah pakar kreativitas ini, beri ia kesempatan untuk melatih berbagai keterampilannya. Saat membacakan cerita, misalnya, "Orangtua tak melulu membaca tapi juga mengajukan pertanyaan agar si anak terbiasa berpikir kreatif." 

Cukup Alat Sederhana 

Sarana dan prasarana pendidikan di rumah yang memungkinkan bakat si anak tercium, tentu saja perlu. Buku bacaan, alat musik/olahraga, atau mainan edukatif, sangat penting. Dari benda-benda itulah, akan terlihat ke mana bakat si anak. Apakah pada musik, olahraga, teknik, atau intelektual. "Dari situ juga akan terlihat derajat besarnya bakat tiap anak." Memang, aku Utami, tak semua orang mampu membeli alat-alat musik yang mahal. Untuk mendeteksi bakat musik, tak perlu punya piano. "Cukup dengan radio atau teve. Dari cepatnya si kecil menghapal nyanyian bahkan untuk melodi yang sulit-sulit, itu sudah menunjukkan bakatnya," terang penulis buku Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah ini. Selain itu, asalkan orang tua kreatif, alam pun sudah menyediakan berbagai sarana. Misalnya, membuat mainan dari biji-bijian atau dedaunan. "Sebaiknya dalam melakukan permainan, orang tua juga ikut terjun bermain. Sehingga anak dapat menikmati kegiatan itu dan mempunyai kepercayaan diri untuk mengembangkannya," kata Utami. 

Perlakuan Khusus 

Setelah bakat anak ditemukan, orang tua seyogyanya memberi peluang pada anak untuk mengembangkan bakatnya. Yakni, dengan menciptakan lingkungan yang mendorong perkembangan bakat itu. Seperti sudah disinggung di atas, sekalipun seorang anak berbakat namun lingkungannya tak mendukung, maka ia tak akan berkembang. "Memang anak berbakat akan belajar lebih cepat dan melakukan segala sesuatu lebih baik ketimbang anak biasa, sehingga tampaknya tak perlu mendapatkan perhatian khusus. Padahal, tidak demikian," kata Utami. Setiap anak, lanjutnya, entah ia berbakat atau tidak, punya hak untuk mendapatkan pendidikan yang menarik dan menantang. Tapi karena kebutuhan, minat, dan perilaku yang "lebih" dibanding anak lainnya, mau tak mau, anak berbakat harus mendapatkan pengarahan khusus. Hanya, Utami mengingatkan, jangan sampai perlakuan khusus itu merugikan. Baik bagi si anak itu sendiri maupun anak lain. Misalnya, orang tua sering menonjol-nonjolkan anaknya yang berbakat dibanding anaknya yang lain. 

"Dampak buruknya, ego si anak semakin menghebat dan bisa juga ia rasakan sebagai beban. Sebab, seperti anak-anak lainnya, ia pun punya masalah emosional," terangnya. Sebaliknya bagi anak lain, bisa timbul rasa persaingan antara saudara. "Kok, dia melulu yang dipuji?" Karena itu, Utami menganjurkan orang tua bersikap tak menunjukkan si berbakat itu istimewa, tapi lebih pada memberikan rangsangan-rangsangan istimewa. Sebetulnya, yang paling penting dilakukan orang tua, kata Utami, "Mencoba menemukan bakat pada setiap anaknya karena masing-masing anak punya kekuatan tersendiri sehingga anak tak perlu merasa iri satu sama lain." Nah, tunggu apalagi? Semakin cepat dan semakin sering kita memberi rangsangan pada si kecil, bakat terpendamnya pun akan segera kita temukan. 

Ciri-ciri Intelektual/Belajar 

Mudah menangkap pelajaran, ingatan baik, perbendaharaan kata luas, penalaran tajam (berpikir logis-kritis, memahami hubungan sebab-akibat), daya konsentrasi baik (perhatian tak mudah teralihkan), menguasai banyak bahan tentang macam-macam topik, senang dan sering membaca, ungkapan diri lancar dan jelas, pengamat yang cermat, senang mempelajari kamus maupun peta dan ensiklopedi. Cepat memecahkan soal, cepat menemukan kekeliruan atau kesalahan, cepat menemukan asas dalam suatu uraian, mampu membaca pada usia lebih muda, daya abstraksi tinggi, selalu sibuk menangani berbagai hal. 

Ciri-ciri Kreativitas 

Dorongan ingin tahunya besar, sering mengajukan pertanyaan yang baik, memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah, bebas dalam menyatakan pendapat, mempunyai rasa keindahan, menonjol dalam salah satu bidang seni, mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya serta tak mudah terpengaruh orang lain, rasa humor tinggi, daya imajinasi kuat, keaslian (orisinalitas) tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya. Dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal yang jarang diperlihatkan anak-anak lain), dapat bekerja sendiri, senang mencoba hal-hal baru, kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi). 

Ciri-ciri Motivasi 

Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu lama, tak berhenti sebelum selesai), ulet menghadapi kesulitan (tak lekas putus asa), tak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi, ingin mendalami bahan/bidang pengetahuan yang diberikan, selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin (tak cepat puas dengan prestasinya), menunjukkan minat terhadap macam-macam masalah "orang dewasa" (misalnya terhadap pembangunan, korupsi, keadilan, dan sebagainya). Senang dan rajin belajar serta penuh semangat dan cepat bosan dengan tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan pendapat-pendapatnya (jika sudah yakin akan sesuatu, tak mudah melepaskan hal yang diyakini itu), mengejar tujuan-tujuan jangka panjang (dapat menunda pemuasan kebutuhan sesaat yang ingin dicapai kemudian), senang mencari dan memecahkan soal-soal. 

Sumber : Tabloid Nakita


Selasa, 11 Agustus 2009

"Peran Komputer Bagi Pendidikan Anak"


Pada awalnya komputer dititikberatkan pada proses pengolahan data, tetapi karena teknologi yang sangat pesat, saat ini teknologi komputer sudah menjadi sarana informasi dan pendidikan khususnya teknologi internet. Dalam hal pendidikan, komputer dapat dipergunakan sebagai alat bantu (media) dalam proses belajar mengajar baik untuk guru maupun siswa yang mempunyai fungsi sebagai Media tutorial, alat peraga dan juga alat uji dimana tiap fungsi tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan. 

Sebagai media tutorial, komputer memiliki keunggulan dalam hal interaksi, menumbuhkan minat belajar mandiri serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa / anak. Tetapi interaksi komputer dengan manusia belum dapat menggantikan interaksi manusia dengan manusia, selain itu mempunyai kelemahan lain yaitu kemauan belajar mandiri yang masih rendah. Komputer sebagai alat uji memiliki keunggulan dalam keobyektifan, ketepatan dan kecepatan dalam penghitungan tetapi masih belum dapat menilai soal-soal essai, pendapat dan hal yang terkait dengan moral dan etika. Yang terakhir, sebagai media alat peraga, komputer mempunyai kelebihan dapat memperagakan percobaan tanpa adanya resiko, tetapi membutuhkan waktu dalam pengembangannya. 

Sebelum memperkenalkan komputer kepada anak, orangtua maupun guru seharusnya dapat memahami perkembangan pemahaman anak, dimana pada usia 0 -2 tahun anak mendapatkan pemahamannya dari penginderaannya. Kemudian usia 2 - 7 tahun anak mulai belajar menggunakan bahasa, angka dan simbol-simbol tertentu. Pada usia 7 - 12 tahun anak mulai dapat berpikir logis, terutama yang berhubungan dengan obyek yang tampak langsung olehnya. 

Yang saat ini perlu menjadi perhatian bagi orangtua maupun guru adalah bagaimana cara memperkenalkan komputer kepada anak. Hal yang perlu dicoba adalah dengan program-program aplikasi (software) yang bersifat "Edutainment" yaitu perpaduan antara education (pendidikan) dan entertainment (hiburan). Selain itu program (software) aplikasi "Edutainment" tersebut mempunyai kemampuan menumbuhkembangkan kreatifitas dan imajinasi anak serta melatih saraf motorik anak. Contohnya program permainan kombinasi benda, menyusun benda atau gambar (Puzzle) serta program berhitung dan software-software lain yang didukung perangkat multimedia. 

Selain program aplikasi (software), dunia internet semakin berarti bagi anak-anak. Internet memungkinkan anak mengambil dan mengolah ilmu pengetahuan ataupun informasi dari situs-situs yang dikunjunginya tanpa adanya batasan jarak dan waktu. Di samping itu masih ada manfaat lain yang didapat dari internet, misalnya surat menyurat (E-mail), berbincang (chatting), mengambil dan menyimpan informasi (download). 

Untuk perkembangan pendidikan selanjutnya teknologi "Teleconference" (Konferensi interaktif secara on line dari jarak jauh) dirasakan sudah pantas di coba dan dikembangkan, karena dapat menghemat waktu, tenaga pengajar, kapasitas ruang belajar serta tidak mengenal letak geografis.


Senin, 10 Agustus 2009

Daftar Singkatan & Istilah Komunikasi di Internet (Email,Chat)



AAMOF - As A Matter Of Fact 
AFAIK - As Far As I Know 
AFAIC - As Far As I'm Concerned 
AFAICT - As Far As I Can Tell 
AFK - Away From Keyboard 
ASAP - As Soon As Possible 
ASL - Age, Sex, LocationS 
BAK - Back At Keyboard 
BBL - Be Back Later 
BITMT - But In The Meantime 
BOT - Back On Topic 
BRB - Be Right Back 
BTW - By the way 
C4N - Ciao For Now 
CMIIW - Correct Me If I'm Wrong 
CRS - Can't Remember "Stuff" 
CU - See You 
CUL(8R) - See You Later 
CWOT - Complete Waste Of Time 
CYA - See Ya 
DIY - Do It Yourself 
EOD - End Of Discussion 
EZ - Easy 
F2F - Face To Face 
FAQ - Frequently Asked Questions 
FBOW - For Better Or Worse 
FOAF - Friend Of A Friend 
FOCL - Falling Off Chair Laughing 
FWIW - For What It's Worth 
FYA - For Your Amusement 
FYI - For Your Information 
/ga - Go Ahead 
GAL - Get A Life 
GBTW - Get Back To Work 
GFC - Going For Coffee 
GFETE - Grinning From Ear To Ear 
GMTA - Great minds think alike 
GR&D - Grinning, Running & Ducking 
GTG - Got To Go 
GTGTTBR - Got To Go To The Bathroom 
GTRM - Going To Read Mail 
HAND - Have A Nice Day 
HHOK - Ha Ha Only Kidding 
HTH - Hope This Helps 
IAC - In Any Case 
IAE - In Any Event 
IC - I See 
IDGI - I Don't Get It 
IMCO - In My Considered Opinion 
IMHO - In my humble opinion 
IMNSHO - in My Not So Humble Opinion 
IMO - In My Opinion 
IMPE - In My Personal Experience 
IMVHO - In My Very Humble Opinion 
IOW - In Other Words 
IRL - In Real Life 
ISP - Internet Service Provider 
IYKWIM - If You Know What I Mean 
JIC - Just In Case  
J/K - Just kidding 
KISS - Keep It Simple Stupid 
L8TR - Later 
LD - Later dude 
LOL - Laughing Out Loud 
LTNS - Long Time No See 
MorF - Male or Female, or person who asks that question 
MTCW - My Two Cents Worth 
NRN - No Reply Necessary 
ONNA - Oh No, Not Again! 
OTOH - On The Other Hand 
OTTOMH - Off the top of my head 
OIC - Oh I See 
OTF - On The Floor 
OLL - Online Love 
PLS - Please 
PU - That Stinks! 
REHI - Hello Again (re-Hi!) 
ROFL - Rolling On Floor Laughing 
ROTF - Rolling On The Floor 
ROTFL - Rolling On The Floor Laughing 
RSN - Real Soon Now 
RTDox - Read The Documentation/Directions 
RTFM - Read The Frickin' Manual 
RUOK - Are You OK? 
SNAFU - Situation Normal; All Fouled Up 
SO - Significant Other 
SOL - Smiling Out Loud (or Sh*t Out of Luck) 
TANSTAAFL - There Ain't No Such Thing As A Free Lunch 
TAFN - That's All For Now 
TEOTWAWKI - The End Of The World As We Know It 
THX - Thanks 
TIA - Thanks In Advance 
TLK2UL8R - Talk to you later 
TMK - To My Knowledge 
TOS - Terms Of Service 
TPTB - The Powers That Be 
TSWC - Tell Someone Who Cares 
TTBOMK - To The Best Of My Knowledge 
TTFN - Ta-Ta For Now 
TTYL(8R) - Talk To You Later 
TWIMC - To Whom It May Concern 
Txs - Thanks 
URL - Web Page Address 
w/b - Welcome Back 
w/o - Without 
WRT - With Regard To 
WTG - Way To Go 
WU? - What's Up? 
WWW - World Wide Web 
WYSIWYG - What You See Is What You Get 
Y2K - Year 2000 
YGIAGAM - Your Guess Is As Good As Mine 
YGWYPF - You Get What You Pay For 
YMMV - Your Mileage May Vary 
ZZZ - Sleeping


Sekilas mengenai handphone

 
Telepon genggam seringnya disebut handphone (disingkat HP) atau disebut pula sebagai telepon selular (disingkat ponsel) adalah perangkat telekomunikasi elektronik yang mempunyai kemampuan dasar yang sama dengan telepon fixed line konvensional, namun dapat dibawa ke mana-mana (portabel, mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon menggunakan kabel (nirkabel; wireless). 

Saat ini Indonesia mempunyai dua jaringan telepon nirkabel yaitu sistem GSM (Global System For Mobile Telecommunications) dan sistem CDMA (Code Division Multiple Access). Selain berfungsi untuk melakukan dan menerima panggilan telepon, ponsel umumnya juga mempunyai fungsi pengiriman dan penerimaan pesan singkat (short message service, SMS). 

Mengikuti perkembangan teknologi digital, kini ponsel juga dilengkapi dengan berbagai pilihan fitur, seperti bisa menangkap siaran radio dan televisi, perangkat lunak pemutar audio (mp3) dan video, kamera digital, game, dan layanan internet (WAP, GPRS, 3G). 

Ada pula penyedia jasa telepon genggam di beberapa negara yang menyediakan layanan generasi ketiga (3G) dengan menambahkan jasa videophone, sebagai alat pembayaran, maupun untuk televisi online di telepon genggam mereka. 

Sekarang, telepon genggam menjadi gadget yang multifungsi. Selain fitur-fitur tersebut, ponsel sekarang sudah ditanamkan fitur komputer. Jadi di ponsel tersebut, orang bisa mengubah fungsi ponsel tersebut menjadi mini komputer. Di dunia bisnis, fitur ini sangat membantu bagi para pebisnis untuk melakukan semua pekerjaan di satu tempat dan membuat pekerjaan tersebut diselesaikan dalam waktu yang singkat. 

Sumber : wikipedia


Asal usul nama laptop


Ketika hidup manusia modern sudah bergantung pada notebook, dengan pekerjaan penting dan kenangan indah tersimpan rapi didalamnya, ada baiknya kita mengingat John Osborne. Orang inilah yang 26 tahun yang lalu membuat komputer jinjing pertama bernama Osborne I. Tentu jangan bayangkan Osborne I seperti notebook yang anda temui saat ini. Bobotnya saja nyaris mencapai 13 kg, padahal layarnya cuma berukuran 5 inchi. Namun John Osborne berhasil meletakkan satu pondasi penting, bahwa komputer seharusnya bisa dibawa dan digunakan di mana pun kita berada. 

Berdasarkan penempatannya, komputer bisa dibagi tiga kategori, desktop, laptop, dan palmtop. Desktop, tentu jelas, ditempatkan di atas meja. Laptop, dengan awalan kata “lap” yang berarti pangkuan, artinya komputer yang bisa dipangku. Dan palmtop, dengan awalan kata “palm” yang artinya genggaman, artinya komputer yang bisa digenggam. Pada perkembangan, istilah “notebook” sepertinya menjadi lebih popular. Disebut “notebook” karena komputer ini bisa dilipat seperti layaknya buku. Dan “laptop” menjadi tidak relevan karena lebih banyak orang yang bekerja dengan laptop yang ditaruh di atas meja ketimbang di atas pangkuan, kecuali dalam situasi tidak adanya meja. 

Memangku notebook terlalu lama juga bisa menjadi berbahaya, karena panas yang ditimbulkan komputer ini. Ingat, dibandingkan dengan desktop, notebook memiliki keterbatasan dalam sirkulasi udara. Itulah mengapa meskipun notebook menggunakan daya yang lebih sedikit dari desktop, seringkali notebook justru terasa lebih panas. Tanpa disadari, paha kita bisa menjadi sangat panas, dan menimbulkan resiko melepuh. Tentu saja Anda tidak menghendaki paha Anda menjadi matang, bukan? 

Sumber : Majalah PC Plus edisi 17


Kolaborasi Lukis TK DAPENA dengan Cak KANDAR






Kolaborasi dengan Cak Kandar ( Pelukis terkenal Surabaya ), sambtu, 8 agustus 2009 di Hotel Bumi ( ex Hyatt ) Surabaya,

Minggu, 09 Agustus 2009

Belajar yang Menyenangkan (?)

“Anak saya ketika belum sekolah sangat ingin bersekolah, setelah bersekolah kok sekarang dia jadi takut ke sekolah? Katanya gurunya galak!” 

Di tengah carut marutnya pendidikan kita ungkapan ini mungkin saja pernah kita dengar. Jika ungkapan ini dapat dijadikan acuan, tentu dapat dimunculkan pertanyaan, kenapa? 

Thomas Amstrong dalam bukunya, “Setiap Anak Cerdas” menulis sebagai berikut. Di tahun 1980-an John Goodlad mantan dekan School of Education di UCLA, dan rekan-rekannya mengunjungi sekitar seribu ruang kelas di Amerika Serikat. Gambaran yang diberikannya adalah dunia gersang tanpa kegembiraan dalam skala besar. Goodlad menulis, “Kami jarang melihat tawa, sikap antusias yang berlebihan, atau letupan kemarahan yangdirasakan bersama. Kurang dari 3 persen waktu kelas digunakan untuk pujian, komentar menyakitkan, ekspresi sukacita atau humor, atau luapan spontan seperti ‘wow’ atau ‘asyiik’. 

Setiap hari, kurang dari 1 persen waktu belajar dipakai untuk melibatkan murid dalam berbagi pendapat atau secara terbuka membahas sesuatu masalah atau topik. Semua ruang kelas sekolah dasar didominasi guru, sedangkan murid tidak berwenang menentukan apapun. Sejak itu keadaan malah menjadi semakin buruk. Meski di era tahun 1990-an terjadi gelombang reformasi, tampaknya sekarang ada pergerakan kembali ke situasi ruang kelas yang bahkan lebih suram,” demikan Goodlad. 

Apa yang terungkap dari hasil penelitian ini adalah apa yang terjadi di Amerika Serikat, bagaimana dengan Indonesia? Agaknya persoalan guru dan murid dimanapun agaknya sama. Guru yang berpenghasilan rendah dengan setumpuk tugas ( ini lho tugas guru: 1. Mendidik, 2. Mengajar, 3. Menilai, 4. Mendokumentasikan Hasil Penilaian, Dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi: 5. Mengenal karakter dan potensi siswa satu persatu, 6. Menyusun Rencana Pembelajaran, 7. Membuat Silabus, 8. Melaksanakan Remedi, 9. Melakukan Pengayaan). Belum lagi urusan dapur yang enggak pernah stabil. 

Tidak salah jika teman penulis Shinse Yap - yang tinggal di Cengkareng Jakarta Barat dan dari tubuhnya bisa keluar energi listrik ratusan volt – berkata, “Guru itu penyakitnya ya darah tinggi, kalo enggak ya Mag.” 

Soal murid tak kurang peliknya. Saat ini murid dimanapun di dunia diserang dengan apa yang disebut “westernmind”, kapitalis-hedonis, suatu gaya hidup yang memunculkan paradigma; sukses itu identik dengan mobil mewah, rumah bagus, uang banyak, perempuan cantik, dan bergaya hidup barat, kalo enggak ya enggak modern. Seperti manusia dewasa, murid-murid juga “diserang” oleh perubahan situasi yang tidak jelas arahnya. Nilai-nilai agama dan tradisi yang diajarkan oleh leluhur menjadi jungkir balik ketika harus berhadapan dengan acara-acara televisi yang menampilkan seks bebas, menjanjikan sukses dan terkenal dalam sekejap asal mampu tampil menarik dan bisa sedikit tarik suara dan lain-lain acara yang menafikan: Kerja Keras, Kerja Cerdas, Cinta Ilmu Pengetahuan, Keimanan dan Ketaqwaan. 

Dua figur dengan persepsi yang berbeda tentang hidup, bertemu dalam satu ruang yang bernama kelas. Figur yang pertama, guru dengan tugas dan persoalan pribadi yang bisa bikin dia stress, figur yang kedua, murid yang terombang-ambing dalam pusaran perubahan nilai-nilai yang maha dahsyat, yang bisa membuat dia stress dan berujung pada narkoba. 

Apa yang terjadi jika kedua figur ini tidak dapat membangun kesepakatan- kesepakatan? Kedua-duanya stress, hasilnya adalah kelas yang muram, belajar mengajar hanya sekedar rutinitas dan menggugurkan kewajiban tanpa makna. 

Dalam setiap situasi selalu ada jalan keluar untuk sebuah solusi. Barangkali belajar yang menyenangkan yang penulis cuplik dari bukunya Bobi Deporter : Quantum Teaching/Learning bisa dijadikan renungan dan acuan. Bobbi Deporter, menamai Kerangka Belajar dan Mengajar Interaktif lewat Quantum Teaching/Learning dengan: TANDUR, akronim dari: 

TUMBUHKAN 

Tumbuhkan minat belajar siswa dengan memuaskan rasa ingin tahu siswa dalam bentuk: Apakah Manfaatnya BAgiKu (AMBAK) jika aku mengikuti topik pelajaran ini dengan guru anu? 

Tumbuhkan suasana yang menyenangkan di hati siswa, dalam suasana relaks, tumbuhkan interaksi dengan siswa, masuklah ke alam pikiran mereka dan bawalah alam pikiran mereka ke alam pikiran Anda, yakinkan siswa mengapa harus mempelajari ini dan itu, belajar adalah suatu kebutuhan siswa, bukan suatu keharusan. 

Tumbuhkan NIAT YANG KUAT pada diri Anda bahwa Anda akan menjadi guru dan pendidik yang hebat. Tumbuhkan strategi mengajar dengan memanfaatkan seluruh potensi yang ada di dalam kelas, di luar kelas, di dalam sekolah dan di luar sekolah. 

ALAMI 

Unsur ini mendorong hasrat alami otak untuk “menjelajah”. Cara apa yang terbaik agar siswa memahami informasi? Kegiatan apa yang dapat diberikan agar pengetahuan dan ketrampilan yang sudah dimiliki siswa, misalnya, dapat membuktikan bahwa kuat lemahnya arus listrik yang mengalir pada penghantar dipengaruhi oleh besarnya perlawanan (resistance) dari penghantar, luas penampang penghantar dan panjang penghantar?, bandingkan dengan keausan ban mobil jika dikaitkan dengan panjang jalan dan kondisi jalan raya. Atau bawa mereka ke pantai, genggam pasir kwarsa yang ada di pantai, ajukan pertanyaan:”Mengapa pasir ini ada disini, darimana sesungguhnya pasir ini berasal!” Seorang anak balita menyentuh ujung obat nyamuk yang terbakar, “Aww” dia menjerit. Tercipta suatu momen belajar dari abstrak:”Panas – Jangan Sentuh, menjadi kongkret. 

NAMAI 

Setelah siswa melalui pengalaman belajar pada topik tertentu, ajak mereka untuk menulis di kertas, menamai apa saja yang telah mereka peroleh, apakah itu informasi, rumus, pemikiran, tempat dan sebagainya, ajak mereka untuk menempelkan nama-nama tersebut di dinding kelas dan dinding kamar tidurnya. 

DEMONSTRASIKAN 

Ingatkan Anda ketika pertama kali mengenderai sepeda? Anda mencoba dan jatuh (ini pengalaman). Anda coba lagi, berhenti, bertanya, barangkali Anda dapat informasi atau latihan dari saudara, kakak, atau teman (penamaan). Kemudian Anda benar-benar mengaitkan pengalaman dan nama dengan cara menunjukkan dan melakukannya! 

ULANGI 

Melalui pengalaman belajar siswa mengerti dan mengetahui bahwa dia memiliki kemampuan (kompetensi) dan informasi (nama) yang cukup, sudah saatnya dia mendemontrasikan dihadapan guru, teman, maupun saudara-saudaranya. 

Pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “Aku tahu bahwa aku tahu ini!” Pengulangan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan konsep multi kecerdasan (baca buku setiap anak cerdas- Thomas Amstrong). 

RAYAKAN 

Perayaan adalah ekspresi atau kelompok seseorang yang telah berhasil mengerjakan sesuatu tugas atau kewajiban dengan baik. Umat Islam merayakan Iedul Fitri (kembali suci) karena telah berhasil mengerjakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan baik. Jadi, jika siswa sudah mengerjakan tugas dan kewajibannya dengan baik layak untuk dirayakan lewat: bertepuk tangan, jentik jari, atau bernyanyi bersama-sama, atau secarabersama-sama mengucapkan:”AKU BERHASIL!” 

Oleh: Achjar Chalil


Kenali guru anak kita

Walau ada pepatah mengatakan “it takes a village”untuk membesarkan dan mendewasakan seseorang dari anak menjadi orang dewasa, tetap tak bisa dipungkiri bahwa orang yang palingdekatlah yang paling berpengaruh.Setelah orang tua, siapakahorang dewasa lain yang paling dekat dengan anak ? Salah satunya adalah guru sang anak.Dengan kedudukan dan rutinnya seorang guru berada dekat anak, mau tak mau guru ikut menyumbang peran yang besar bagi perkembangan anak. Baik mental, intelektual, kepribadian, sosial, dan lain sebagainya. 

Dengan makin banyaknyapengaruh-pengaruh luar yang tidak baik bagi anak dalam hidup sehari-hari,sangat penting untuk lebih memberi perhatian dalam proses mendidikanak menjadi dewasa. Oleh karena itu, anak benar-benar membutuhkan guru yang dapat memberinya bimbingan, dorongan motivasi, teladan, selain sekedar mengajarkan suatu materi pelajaran. Singkat kata, anak perlu untuk mendapatkan guruyang baik. Tapi masalahnya, bagaimana kriteria “guru yang baik” itu ? 

Kebanyakan orang tua cukup puas dengan guru yang dapat menciptakan suasana kelas yang tenang, tertib, pada saat guru mengajar. Atau guru yang memberi nilai cukup bagus untuk ulangan yang diadakan, atau guru yang dituruti segala perkataannya.Akan tetapi jika dilihat lebih dalam lagi, sebenarnya tidaklah mudah jika kita harus mendeskripsikan “guru yang baik”, yang benar-benar bisa membimbing dan menjadi teladan anak dalam hidupnya. Tenang dan tertibnya suatu kelas, tidaklah terlalu tepat untuk dijadikan patokan keberhasilan seorang guru dalam mendidik anak. Hal ini karena keadaan tenang dan tertib ini bisa disebabkan karena memang muridnya menghormati dan segan pada sang guru, atau bisa juga murid begitu ketakutan kalau dihukum oleh guru. 

Sedangkan nilai yang bagus di rapor pun tidak juga bisa menjadi patokan bahwaguru berhasil dalam mengajar muridnya. Ada banyak faktor yang harus dikaji lebih dalam. Apakah nilainya bagus karena gurunya terlalu murah nilai ? atau karena pelajaran yang diberikan terlalu mudah bagi anak seumur itu ? atau memang guru benar-benar berhasil memberikan ilmunya ? Dan yang sering terlupa oleh kita semua, nilai yang ada di buku rapor atau kertas ulangan adalah nilai dari benar tidaknya jawaban murid atas pertanyaan guru, bukan nilai dari kepribadian anak,…. bukan nilai dari kematangan pribadi anak, ….bukan nilai dariperkembangan mental dan sosial anak. 

Kita semua tentunya ingin bahwaanak kita tidak hanya dididik oleh gurunya dari segi akademik saja, bukan ? Kita semua ingin bahwa anak kita juga diajarkan akal budi yang baik,menjadi anak yang berkepribadian baik dan saleh.Untuk tercapainya hal ini, anak butuh guru yang benar-benar mau membimbingnya, bukan sekedar menjejalinya bahan pelajaran sekolah. Guru yang baik tidak selalu terpaku dengan materi yang ada di buku saja, melainkan dapat membuat anak mengertipenerapan ilmu dan budi pekerti dalam hidup sehari-hari. Guru yang baik , adalah guru yang benar-benar peduli dan menyayangi anak didiknya, dan akan berusaha semaksimal mungkin demi kemajuan si anak. 

Guru yang baik adalah guru yang mampu membuat muridnya berusaha lebih baik lagi. Guru yang baik adalah guru yangmendapat hormat dan penghargaan dari muridnya, bukan yang membuat muridnya ketakutan. Bagaimanakah guru anak kita ? Alangkah baiknya bila kita dapat menyempatkan diri mendengarkan bagaimanaanak kita memberi komentar terhadap gurunya. Apakah anak kita sungguh-sunggh dididik dan diajar dengan baik oleh gurunya ?Apakah guru anak kita memang mampu untuk membimbingnya ? Apakah guru anak kita dapat memotivasi anak untuk belajar lebih giat ? Tidak ada salahnya untuk mengenal guru anak kita lebih baik, agar kita tahu bagaimana anak kita dididik. Bukankah semua orang tua menginginkan hal yang terbaik bagi anaknya, termasuk dalam hal pendidikan ?


Kamis, 06 Agustus 2009

Remaja & Rokok


 
Meski semua orang tahu akan bahaya yang ditimbulkan akibat merokok, perilaku merokok tidak pernah surut dan tampaknya merupakan perilaku yang masih dapat ditolerir oleh masyarakat. Hal ini dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan rumah, kantor, angkutan umum maupun di jalan-jalan. Hampir setiap saat dapat disaksikan dan di jumpai orang yang sedang merokok. Bahkan bila orang merokok di sebelah ibu yang sedang menggendong bayi sekalipun orang tersebut tetap tenang menghembuskan asap rokoknya dan biasanya orang-orang yang ada disekelilingnya seringkali tidak perduli.

Hal yang memprihatinkan adalah usia mulai merokok yang setiap tahun semakin muda. Bila dulu orang mulai berani merokok biasanya mulai SMP maka sekarang dapat dijumpai anak-anak SD kelas 5 sudah mulai banyak yang merokok secara diam-diam

Bahaya Rokok

Kerugian yang ditimbulkan rokok sangat banyak bagi kesehatan. Tapi sayangnya masih saja banyak orang yang tetap memilih untuk menikmatinya. Dalam asap rokok terdapat 4000 zat kimia berbahaya untuk kesehatan, dua diantaranya adalah nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik (Asril Bahar, harian umum Republika, Selasa 26 Maret 2002 : 19). Racun dan karsinogen yang timbul akibat pembakaran tembakau dapat memicu terjadinya kanker. Pada awalnya rokok mengandung 8 – 20 mg nikotin dan setelah di bakar nikotin yang masuk ke dalam sirkulasi darah hanya 25 persen. Walau demikian jumlah kecil tersebut memiliki waktu hanya 15 detik untuk sampai ke otak manusia.

Nikotin itu di terima oleh reseptor asetilkolin-nikotinik yang kemudian membaginya ke jalur imbalan dan jalur adrenergik. Pada jalur imbalan, perokok akan merasakan rasa nikmat, memacu sistem dopaminergik. Hasilnya perokok akan merasa lebih tenang, daya pikir serasa lebih cemerlang, dan mampu menekan rasa lapar. Sementara di jalur adrenergik, zat ini akan mengaktifkan sistem adrenergik pada bagian otak lokus seruleus yang mengeluarkan sorotonin. Meningkatnya serotonin menimbulkan rangsangan rasa senang sekaligus keinginan mencari rokok lagi. (Agnes Tineke, Kompas Minggu 5 Mei 2002: 22). Hal inilah yang menyebabkan perokok sangat sulit meninggalkan rokok, karena sudah ketergantungan pada nikotin. Ketika ia berhenti merokok rasa nikmat yang diperolehnya akan berkurang.

Efek dari rokok/tembakau memberi stimulasi depresi ringan, gangguan daya tangkap, alam perasaan, alam pikiran, tingkah laku dan fungsi psikomotor. Jika dibandingkan zat-zat adiktif lainnya rokok sangatlah rendah pengaruhnya, maka ketergantungan pada rokok tidak begitu dianggap gawat (Roan, Ilmu kedokteran jiwa, Psikiatri, 1979 : 33).

Tipe-tipe Perokok

Mereka yang dikatakan perokok sangat berat adlah bila mengkonsumsi rokok lebih dari 31 batang perhari dan selang merokoknya lima menit setelah bangun pagi. Perokok berat merokok sekitar 21-30 batang sehari dengan selang waktu sejak bangun pagi berkisar antara 6 - 30 menit. Perokok sedang menghabiskan rokok 11 – 21 batang dengan selang waktu 31-60 menit setelah bangun pagi. Perokok ringan menghabiskan rokok sekitar 10 batang dengan selang waktu 60 menit dari bangun pagi.

Menurut Silvan Tomkins (dalam Al Bachri,1991) ada 4 tipe perilaku merokok berdasarkan Management of affect theory, ke empat tipe tersebut adalah :

Tipe perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif. Dengan merokok seseorang merasakan penambahan rasa yang positif. Green (dalam Psychological Factor in Smoking, 1978) menambahkan ada 3 sub tipe ini :
Pleasure relaxation , perilaku merokok hanya untuk menambah atau meningkatkan kenikmatan yang sudah didapat, misalnya merokok setelah minum kopi atau makan.
Stimulation to pick them up. Perilaku merokok hanya dilakukan sekedarnya untuk menyenangkan perasaan.
Pleasure of handling the cigarette. Kenikmatan yang diperoleh dengan memegang rokok. Sangat spesifik pada perokok pipa. Perokok pipa akan menghabiskan waktu untuk mengisi pipa dengan tembakau sedangkan untuk menghisapnya hanya dibutuhkan waktu beberapa menit saja. Atau perokok lebih senang berlama-lama untuk memainkan rokoknya dengan jari-jarinya lama sebelum ia nyalakan dengan api.
Perilaku merokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif. Banyak orang yang menggunakan rokok untuk mengurangi perasaan negatif, misalnya bila ia marah, cemas, gelisah, rokok dianggap sebagai penyelamat. Mereka menggunakan rokok bila perasaan tidak enak terjadi, sehingga terhindar dari perasaan yang lebih tidak enak.
Perilaku merokok yang adiktif. Oleh Green disebut sebagai psychological Addiction. Mereka yang sudah adiksi, akan menambah dosis rokok yang digunakan setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang. Mereka umumnya akan pergi keluar rumah membeli rokok, walau tengah malam sekalipun, karena ia khawatir kalau rokok tidak tersedia setiap saat ia menginginkannya.
Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan. Mereka menggunakan rokok sama sekali bukan karena untuk mengendalikan perasaan mereka, tetapi karena benar-benar sudah menjadi kebiasaannya rutin. Dapat dikatakan pada orang-orang tipe ini merokok sudah merupakan suatu perilaku yang bersifat otomatis, seringkali tanpa dipikirkan dan tanpa disadari. Ia menghidupkan api rokoknya bila rokok yang terdahulu telah benar-benar habis

Tempat merokok juga mencerminkan pola perilaku perokok. Berdasarkan tempat-tempat dimana seseorang menghisap rokok, maka dapat digolongkan atas :

Merokok di tempat-tempat Umum / Ruang Publik:
Kelompok homogen (sama-sama perokok), secara bergerombol mereka menikmati kebiasaannya. Umumnya mereka masih menghargai orang lain, karena itu mereka menempatkan diri di smoking area.
Kelompok yang heterogen (merokok ditengah orang-orang lain yang tidak merokok, anak kecil, orang jompo, orang sakit, dll). Mereka yang berani merokok ditempat tersebut, tergolong sebagai orang yang tidak berperasaan, kurang etis dan tidak mempunyai tata krama. Bertindak kurang terpuji dan kurang sopan, dan secara tersamar mereka tega menyebar "racun" kepada orang lain yang tidak bersalah.
Merokok di tempat-tempat yang bersifat pribadi:
Di kantor atau di kamar tidur pribadi. Mereka yang memilih tempat-tempat seperti ini sebagai tempat merokok digolongkan kepada individu yang kurang menjaga kebersihan diri, penuh dengan rasa gelisah yang mencekam.
Di toilet. Perokok jenis ini dapat digolongkan sebagai orang yang suka berfantasi

Mengapa Remaja Merokok?

Pengaruh 0rangtua

Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah bahwa anak-anak muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan memberikan hukuman fisik yang keras lebih mudah untuk menjadi perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia (Baer & Corado dalam Atkinson, Pengantar psikologi, 1999:294). Remaja yang berasal dari keluarga konservatif yang menekankan nilai-nilai sosial dan agama dengan baik dengan tujuan jangka panjang lebih sulit untuk terlibat dengan rokok/tembakau/obat-obatan dibandingkan dengan keluarga yang permisif dengan penekanan pada falsafah “kerjakan urusanmu sendiri-sendiri", dan yang paling kuat pengaruhnya adalah bila orang tua sendiri menjadi figur contoh yaitu sebagai perokok berat, maka anak-anaknya akan mungkin sekali untuk mencontohnya.

Perilaku merokok lebih banyak di dapati pada mereka yang tinggal dengan satu orang tua (single parent). Remaja akan lebih cepat berperilaku sebagai perokok bila ibu mereka merokok dari pada ayah yang merokok, hal ini lebih terlihat pada remaja putri (Al Bachri, Buletin RSKO, tahun IX, 1991).

Pengaruh teman.

Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin banyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Dari fakta tersebut ada dua kemungkinan yang terjadi, pertama remaja tadi terpengaruh oleh teman-temannya atau bahkan teman-teman remaja tersebut dipengaruhi oleh diri remaja tersebut yang akhirnya mereka semua menjadi perokok. Diantara remaja perokok terdapat 87% mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok (Al Bachri, 1991)

Faktor Kepribadian.

Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, membebaskan diri dari kebosanan. Namun satu sifat kepribadian yang bersifat prediktif pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial. Orang yang memiliki skor tinggi pada berbagai tes konformitas sosial lebih mudah menjadi pengguna dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang rendah (Atkinson, 1999).

Pengaruh Iklan.

Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut. (Mari Juniarti, Buletin RSKO, tahun IX,1991).

Upaya Pencegahan

Dalam upaya prevensi, motivasi untuk menghentikan perilaku merokok penting untuk dipertimbangkan dan dikembangkan. Dengan menumbuhkan motivasi dalam diri remaja berhenti atau tidak mencoba untuk merokok, akan membuat mereka mampu untuk tidak terpengaruh oleh godaan merokok yang datang dari teman, media massa atau kebiasaan keluarga/orangtua.

Suatu program kampanye anti merokok buat para remaja yang dilakukan oleh Richard Evans (1980) dapat dijadikan contoh dalam melakukan upaya pencegahan agar remaja tidak merokok, karena ternyata program tersebut membawa hasil yang menggembirakan. Kampanye anti merokok ini dilakukan dengan cara membuat berbagai poster, film dan diskusi-diskusi tentang berbagai aspek yang berhubungan dengan merokok. Lahan yang digunakan untuk kampanye ini adalah sekolah-sekolah, televisi atau radio. Pesan-pesan yang disampaikan meliputi:
Meskipun orang tuamu merokok, kamu tidak perlu harus meniru, karena kamu mempunyai akal yang dapat kamu pakai untuk membuat keputusan sendiri.
Iklan-iklan merokok sebenarnya menjerumuskan orang. Sebaiknya kamu mulai belajar untuk tidak terpengaruh oleh iklan seperti itu.
Kamu tidak harus ikut merokok hanya karena teman-temanmu merokok. Kamu bisa menolak ajakan mereka untuk ikut merokok.
Perilaku merokok akan memberikan dampak bagi kesehatan secara jangka pendek maupun jangka panjang yang nantinya akan ditanggung tidak saja oleh diri kamu sendiri tetapi juga akan dapat membebani orang lain (misal: orangtua)

Agar remaja dapat memahami pesan-pesan tersebut maka dalam kampanye anti merokok perlu disertai dengan beberapa pelatihan, seperti:

Ketrampilan berkomunikasi
Kemampuan untuk membuat keputusan sendiri
Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan rasa cemas/anxietas
Pelatihan untuk berperilaku assertif
Kemampuan untuk menghadapi tekanan dari kelompok sebaya, dll

Dengan cara-cara diatas remaja akan diajak untuk dapat memiliki kemampuan dan kepercayaan diri dalam menolak berbagai godaan untuk merokok, baik yang datang dari media massa, teman sebaya maupun dari keluarga. Melarang, menghukum, atau pun memaksa remaja untuk tidak merokok hanya akan memberikan dampak yang relatif singkat karena tidak didasari oleh motivasi internal si remaja.

Sumber : e-psikologi.com