Tampilkan postingan dengan label Tips Mengajar Siswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips Mengajar Siswa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Agustus 2011

Ternyata 63% Netter Malas Ganti Password

(Internet Sehat) Sebuah survei mengungkapkan fakta yang mencengangkan tentang password, termasuk kebiasaan mengganti password, faktor yang dipertimbangkan ketika membuat password, dan nama atau kata yang digunakan saat membuat password.

Hasilnya, sebanyak 63 persen pengguna internet ternyata malas mengganti password alias tidak terlalu sering mengubah password, 17 persen mengaku menggantinya setiap kuartal, 9 persen menggantinya setiap tahun dan hanya 4 persen yang mengaku mengubah password minimal tiap bulan. Sisanya, tidak pernah mengganti password sama sekali.

Survei tersebut digelar secara online di internet oleh perusahaan keamanan dan antivirus Symantec, melalui blognya selama beberapa hari. Hasil survei (prosentase) tersebut terbilang cukup mengejutkan, mengingat saat ini kejahatan cyber semakin pandai memanfaatkan peluang dan gencar melakukan penyerangan lewat teknik rekayasa sosial ataupun jebakan lainnya.

Dari sisi keamanan, 71 persen responden memilih faktor “sulit ditebak” sebagai pertimbangan keamanan ketika membuat password, 46% memilih faktor “mudah diingat”, dan 8 persen melihat dari sisi “pendek/singkat dan kemudahan input”.

Hasil survei juga menemukan fakta yang mengagetkan tentang kata yang dipilih dalam membuat password. Sekitar 10 persen responden menggunakan nama hewan peliharaan mereka sebagai password, 9 persen memilih tanggal lahir sebagai password, 5 persen memakai nama tengah dan karakter pengulangan dan 3 persen menggunakan kata “Password” sebagai password.

Ingatlah bahwa seburuk-buruknya password adalah password yang dibuat dengan menggunakan kata-kata yang mudah ditebak, seperti nama, tanggal lahir, nomor paspor dan sejenisnya.

Terkait hal ini, Symantec mengimbau perusahaan dan konsumen untuk mengambil aksi pencegahan untuk meminimalisir resiko keamanan yang mereka hadapi, yaitu dengan menggunakan password yang efektif. Password yang efektif adalah yang sulit ditebak namun juga harus mudah diingat.

Berikut ini panduan dalam memilih password yang kuat:
1. Gunakan kombinasi yang terdiri dari huruf besar atau kecil, angka, tanda baca dan simbol
2. Pilih kata atau frase yang mempunyai arti penting, lalu ubah
3. Ganti beberapa karakter pertama pada password Anda denga angka atau simbol
4. Semakin panjang dan kompleks password, maka akan semakin aman
5. Hindari membuat password dengan menggunakan informasi pribadi seperti nama, tanggal lahir, nomor passpor, atau informasi sejenis.
6. Hindari membuat password dengan menggunakan karakter berurut atau berulang. Contohnya: 12345678, 222222, abcdefg

Sebagai contoh, misalkan password yang akan digunakan adalah “sersan”. Ubah huruf “e” dengan angka “3″ dan “s” dengan simbol “$” sehingga password menjadi “$3r$an”.

by

Selasa, 27 Juli 2010

5 Hal Mengasyikkan dari Facebook






Meski Facebook mendapat banyak kritikan terkait sistem keamanan dan pengaturan privasi, toh situs jejaring sosial ini tetap digemari. Penggunanya saat ini telah mencapai angka 500 juta orang. Apa yang membuat orang tetap suka mengakses Facebook? Berikut adalah lima hal mengasyikkan dari situs besutan Mark Zuckerberg ini.

1. Social gaming

Sebagian besar pengguna Facebook akan mengatakan bahwa game Facebook merupakan fitur paling menyenangkan dalam layanan Facebook. Berbagai game yang disediakan Facebook bukanlah jenis game berat yang memerlukan grafis 3D, melainkan game ringan yang bisa dimainkan siapa saja secara gratis ketika mengakses Facebook. Dikutip
detikINET dari V3, Senin (26/7/2010), Salah satu contoh game di Facebook yang sukses adalah Farmville. Pengguna Facebook dari berbagai kalangan bisa sampai lupa diri jika sudah memainkannya.

2. Berbagi Foto

Sebenarnya Facebook bukanlah situs pertama yang memungkinkan penggunanya berbagi foto. Namun berbagi foto di Facebook menjadi lebih mengasyikkan dan mudah karena pengguna bisa mengunggah puluhan foto sekaligus dan memperlihatkannya ke teman-teman mereka. Bisa juga mengirimkan foto tersebut ke banyak orang hanya dengan melakukan tag pada foto tersebut. Bagi mereka yang senang berfoto di setiap kegiatan dan membaginya kepada orang lain, sistem seperti sangat bermanfaat.

3. Arus informasi

Melalui update status seseorang atau pengaturan news feeds, pengguna akan selalu up to date dengan informasi terbaru dan apapun yang tengah terjadi pada teman-teman Anda. Kini sudah umum jika hal-hal kecil seperti ulang tahun teman, teman yang baru saja putus dengan pacar atau peristiwa lainnya tersaji melalui Facebook. Memang tak semua informasi berharga, namun sisi positifnya Facebook dapat dimanfaatkan untuk menebarkan berita terbaru agar lebih cepat diketahui orang lain.

4. Komunikasi jarak jauh

Berbagai macam fitur dan aplikasi di Facebook menjadi cara menyenangkan untuk terus saling terhubung. Setiap pengguna dimana pun mereka berada dan meski berjauhan, bisa saling mengobrol atau berkirim pesan di Facebook tanpa dikenakan biaya Facebook.

5. Menemukan teman lama

Sering merasakan senangnya menemukan teman lama di Facebook? Anda tidak sendirian. Sebagian besar pengguna Facebook mengaku kerap mengalami hal itu. Ya, bertemu dengan satu teman lama, kemudian Facebook memberitahukan ada teman lain di luar sana yang mungkin pernah Anda kenal. Atau pengguna juga bisa melakukan pencarian sendiri dengan mengetikkan nama teman, kota, sekolah dan Facebook membantu mencarikan teman yang tengah dicari. Melalui Facebook, bahkan ada juga pengguna yang menemukan anggota keluarganya yang lama menghilang.

Minggu, 09 Agustus 2009

Belajar yang Menyenangkan (?)

“Anak saya ketika belum sekolah sangat ingin bersekolah, setelah bersekolah kok sekarang dia jadi takut ke sekolah? Katanya gurunya galak!” 

Di tengah carut marutnya pendidikan kita ungkapan ini mungkin saja pernah kita dengar. Jika ungkapan ini dapat dijadikan acuan, tentu dapat dimunculkan pertanyaan, kenapa? 

Thomas Amstrong dalam bukunya, “Setiap Anak Cerdas” menulis sebagai berikut. Di tahun 1980-an John Goodlad mantan dekan School of Education di UCLA, dan rekan-rekannya mengunjungi sekitar seribu ruang kelas di Amerika Serikat. Gambaran yang diberikannya adalah dunia gersang tanpa kegembiraan dalam skala besar. Goodlad menulis, “Kami jarang melihat tawa, sikap antusias yang berlebihan, atau letupan kemarahan yangdirasakan bersama. Kurang dari 3 persen waktu kelas digunakan untuk pujian, komentar menyakitkan, ekspresi sukacita atau humor, atau luapan spontan seperti ‘wow’ atau ‘asyiik’. 

Setiap hari, kurang dari 1 persen waktu belajar dipakai untuk melibatkan murid dalam berbagi pendapat atau secara terbuka membahas sesuatu masalah atau topik. Semua ruang kelas sekolah dasar didominasi guru, sedangkan murid tidak berwenang menentukan apapun. Sejak itu keadaan malah menjadi semakin buruk. Meski di era tahun 1990-an terjadi gelombang reformasi, tampaknya sekarang ada pergerakan kembali ke situasi ruang kelas yang bahkan lebih suram,” demikan Goodlad. 

Apa yang terungkap dari hasil penelitian ini adalah apa yang terjadi di Amerika Serikat, bagaimana dengan Indonesia? Agaknya persoalan guru dan murid dimanapun agaknya sama. Guru yang berpenghasilan rendah dengan setumpuk tugas ( ini lho tugas guru: 1. Mendidik, 2. Mengajar, 3. Menilai, 4. Mendokumentasikan Hasil Penilaian, Dalam konteks Kurikulum Berbasis Kompetensi: 5. Mengenal karakter dan potensi siswa satu persatu, 6. Menyusun Rencana Pembelajaran, 7. Membuat Silabus, 8. Melaksanakan Remedi, 9. Melakukan Pengayaan). Belum lagi urusan dapur yang enggak pernah stabil. 

Tidak salah jika teman penulis Shinse Yap - yang tinggal di Cengkareng Jakarta Barat dan dari tubuhnya bisa keluar energi listrik ratusan volt – berkata, “Guru itu penyakitnya ya darah tinggi, kalo enggak ya Mag.” 

Soal murid tak kurang peliknya. Saat ini murid dimanapun di dunia diserang dengan apa yang disebut “westernmind”, kapitalis-hedonis, suatu gaya hidup yang memunculkan paradigma; sukses itu identik dengan mobil mewah, rumah bagus, uang banyak, perempuan cantik, dan bergaya hidup barat, kalo enggak ya enggak modern. Seperti manusia dewasa, murid-murid juga “diserang” oleh perubahan situasi yang tidak jelas arahnya. Nilai-nilai agama dan tradisi yang diajarkan oleh leluhur menjadi jungkir balik ketika harus berhadapan dengan acara-acara televisi yang menampilkan seks bebas, menjanjikan sukses dan terkenal dalam sekejap asal mampu tampil menarik dan bisa sedikit tarik suara dan lain-lain acara yang menafikan: Kerja Keras, Kerja Cerdas, Cinta Ilmu Pengetahuan, Keimanan dan Ketaqwaan. 

Dua figur dengan persepsi yang berbeda tentang hidup, bertemu dalam satu ruang yang bernama kelas. Figur yang pertama, guru dengan tugas dan persoalan pribadi yang bisa bikin dia stress, figur yang kedua, murid yang terombang-ambing dalam pusaran perubahan nilai-nilai yang maha dahsyat, yang bisa membuat dia stress dan berujung pada narkoba. 

Apa yang terjadi jika kedua figur ini tidak dapat membangun kesepakatan- kesepakatan? Kedua-duanya stress, hasilnya adalah kelas yang muram, belajar mengajar hanya sekedar rutinitas dan menggugurkan kewajiban tanpa makna. 

Dalam setiap situasi selalu ada jalan keluar untuk sebuah solusi. Barangkali belajar yang menyenangkan yang penulis cuplik dari bukunya Bobi Deporter : Quantum Teaching/Learning bisa dijadikan renungan dan acuan. Bobbi Deporter, menamai Kerangka Belajar dan Mengajar Interaktif lewat Quantum Teaching/Learning dengan: TANDUR, akronim dari: 

TUMBUHKAN 

Tumbuhkan minat belajar siswa dengan memuaskan rasa ingin tahu siswa dalam bentuk: Apakah Manfaatnya BAgiKu (AMBAK) jika aku mengikuti topik pelajaran ini dengan guru anu? 

Tumbuhkan suasana yang menyenangkan di hati siswa, dalam suasana relaks, tumbuhkan interaksi dengan siswa, masuklah ke alam pikiran mereka dan bawalah alam pikiran mereka ke alam pikiran Anda, yakinkan siswa mengapa harus mempelajari ini dan itu, belajar adalah suatu kebutuhan siswa, bukan suatu keharusan. 

Tumbuhkan NIAT YANG KUAT pada diri Anda bahwa Anda akan menjadi guru dan pendidik yang hebat. Tumbuhkan strategi mengajar dengan memanfaatkan seluruh potensi yang ada di dalam kelas, di luar kelas, di dalam sekolah dan di luar sekolah. 

ALAMI 

Unsur ini mendorong hasrat alami otak untuk “menjelajah”. Cara apa yang terbaik agar siswa memahami informasi? Kegiatan apa yang dapat diberikan agar pengetahuan dan ketrampilan yang sudah dimiliki siswa, misalnya, dapat membuktikan bahwa kuat lemahnya arus listrik yang mengalir pada penghantar dipengaruhi oleh besarnya perlawanan (resistance) dari penghantar, luas penampang penghantar dan panjang penghantar?, bandingkan dengan keausan ban mobil jika dikaitkan dengan panjang jalan dan kondisi jalan raya. Atau bawa mereka ke pantai, genggam pasir kwarsa yang ada di pantai, ajukan pertanyaan:”Mengapa pasir ini ada disini, darimana sesungguhnya pasir ini berasal!” Seorang anak balita menyentuh ujung obat nyamuk yang terbakar, “Aww” dia menjerit. Tercipta suatu momen belajar dari abstrak:”Panas – Jangan Sentuh, menjadi kongkret. 

NAMAI 

Setelah siswa melalui pengalaman belajar pada topik tertentu, ajak mereka untuk menulis di kertas, menamai apa saja yang telah mereka peroleh, apakah itu informasi, rumus, pemikiran, tempat dan sebagainya, ajak mereka untuk menempelkan nama-nama tersebut di dinding kelas dan dinding kamar tidurnya. 

DEMONSTRASIKAN 

Ingatkan Anda ketika pertama kali mengenderai sepeda? Anda mencoba dan jatuh (ini pengalaman). Anda coba lagi, berhenti, bertanya, barangkali Anda dapat informasi atau latihan dari saudara, kakak, atau teman (penamaan). Kemudian Anda benar-benar mengaitkan pengalaman dan nama dengan cara menunjukkan dan melakukannya! 

ULANGI 

Melalui pengalaman belajar siswa mengerti dan mengetahui bahwa dia memiliki kemampuan (kompetensi) dan informasi (nama) yang cukup, sudah saatnya dia mendemontrasikan dihadapan guru, teman, maupun saudara-saudaranya. 

Pengulangan memperkuat koneksi saraf dan menumbuhkan rasa “Aku tahu bahwa aku tahu ini!” Pengulangan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan konsep multi kecerdasan (baca buku setiap anak cerdas- Thomas Amstrong). 

RAYAKAN 

Perayaan adalah ekspresi atau kelompok seseorang yang telah berhasil mengerjakan sesuatu tugas atau kewajiban dengan baik. Umat Islam merayakan Iedul Fitri (kembali suci) karena telah berhasil mengerjakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dengan baik. Jadi, jika siswa sudah mengerjakan tugas dan kewajibannya dengan baik layak untuk dirayakan lewat: bertepuk tangan, jentik jari, atau bernyanyi bersama-sama, atau secarabersama-sama mengucapkan:”AKU BERHASIL!” 

Oleh: Achjar Chalil


Kenali guru anak kita

Walau ada pepatah mengatakan “it takes a village”untuk membesarkan dan mendewasakan seseorang dari anak menjadi orang dewasa, tetap tak bisa dipungkiri bahwa orang yang palingdekatlah yang paling berpengaruh.Setelah orang tua, siapakahorang dewasa lain yang paling dekat dengan anak ? Salah satunya adalah guru sang anak.Dengan kedudukan dan rutinnya seorang guru berada dekat anak, mau tak mau guru ikut menyumbang peran yang besar bagi perkembangan anak. Baik mental, intelektual, kepribadian, sosial, dan lain sebagainya. 

Dengan makin banyaknyapengaruh-pengaruh luar yang tidak baik bagi anak dalam hidup sehari-hari,sangat penting untuk lebih memberi perhatian dalam proses mendidikanak menjadi dewasa. Oleh karena itu, anak benar-benar membutuhkan guru yang dapat memberinya bimbingan, dorongan motivasi, teladan, selain sekedar mengajarkan suatu materi pelajaran. Singkat kata, anak perlu untuk mendapatkan guruyang baik. Tapi masalahnya, bagaimana kriteria “guru yang baik” itu ? 

Kebanyakan orang tua cukup puas dengan guru yang dapat menciptakan suasana kelas yang tenang, tertib, pada saat guru mengajar. Atau guru yang memberi nilai cukup bagus untuk ulangan yang diadakan, atau guru yang dituruti segala perkataannya.Akan tetapi jika dilihat lebih dalam lagi, sebenarnya tidaklah mudah jika kita harus mendeskripsikan “guru yang baik”, yang benar-benar bisa membimbing dan menjadi teladan anak dalam hidupnya. Tenang dan tertibnya suatu kelas, tidaklah terlalu tepat untuk dijadikan patokan keberhasilan seorang guru dalam mendidik anak. Hal ini karena keadaan tenang dan tertib ini bisa disebabkan karena memang muridnya menghormati dan segan pada sang guru, atau bisa juga murid begitu ketakutan kalau dihukum oleh guru. 

Sedangkan nilai yang bagus di rapor pun tidak juga bisa menjadi patokan bahwaguru berhasil dalam mengajar muridnya. Ada banyak faktor yang harus dikaji lebih dalam. Apakah nilainya bagus karena gurunya terlalu murah nilai ? atau karena pelajaran yang diberikan terlalu mudah bagi anak seumur itu ? atau memang guru benar-benar berhasil memberikan ilmunya ? Dan yang sering terlupa oleh kita semua, nilai yang ada di buku rapor atau kertas ulangan adalah nilai dari benar tidaknya jawaban murid atas pertanyaan guru, bukan nilai dari kepribadian anak,…. bukan nilai dari kematangan pribadi anak, ….bukan nilai dariperkembangan mental dan sosial anak. 

Kita semua tentunya ingin bahwaanak kita tidak hanya dididik oleh gurunya dari segi akademik saja, bukan ? Kita semua ingin bahwa anak kita juga diajarkan akal budi yang baik,menjadi anak yang berkepribadian baik dan saleh.Untuk tercapainya hal ini, anak butuh guru yang benar-benar mau membimbingnya, bukan sekedar menjejalinya bahan pelajaran sekolah. Guru yang baik tidak selalu terpaku dengan materi yang ada di buku saja, melainkan dapat membuat anak mengertipenerapan ilmu dan budi pekerti dalam hidup sehari-hari. Guru yang baik , adalah guru yang benar-benar peduli dan menyayangi anak didiknya, dan akan berusaha semaksimal mungkin demi kemajuan si anak. 

Guru yang baik adalah guru yang mampu membuat muridnya berusaha lebih baik lagi. Guru yang baik adalah guru yangmendapat hormat dan penghargaan dari muridnya, bukan yang membuat muridnya ketakutan. Bagaimanakah guru anak kita ? Alangkah baiknya bila kita dapat menyempatkan diri mendengarkan bagaimanaanak kita memberi komentar terhadap gurunya. Apakah anak kita sungguh-sunggh dididik dan diajar dengan baik oleh gurunya ?Apakah guru anak kita memang mampu untuk membimbingnya ? Apakah guru anak kita dapat memotivasi anak untuk belajar lebih giat ? Tidak ada salahnya untuk mengenal guru anak kita lebih baik, agar kita tahu bagaimana anak kita dididik. Bukankah semua orang tua menginginkan hal yang terbaik bagi anaknya, termasuk dalam hal pendidikan ?


Rabu, 22 Juli 2009

Setiap Orang Memiliki kekurangan






Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan satunya lagi tidak. Tempayan yang utuh selalu dapat membawa air penuh, walaupun melewati perjalanan yang panjang dari mata air ke rumah majikannya. Tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.

Hal ini terjadi setiap hari selama dua tahun. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan utuh
merasa bangga akan prestasinya karena dapat menunaikan tugas dengan sempurna. Di pihak lain, si tempayan retak merasa malu sekali akan ketidaksempurnaanya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya ia dapat berikan.

Setiap Orang Memiliki kekurangan

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak berkata
kepada si tukang air, “Saya sungguh malu kepada diri saya sendiri dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya” “mengapa?” tanya si tukang air,”mengapa kamu merasa malu ?””Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa. Adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuat mu rugi.”

Si tukang air merasa kasihan kepada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia menjawab,” Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.” Tuhan sanggup memakai kelemahan kita untuk maksud yang indah.

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali merasa sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor dan kembali tempayan retak itu meminta maaf kepada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu tidak memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu ? tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan lain yang tidak retak itu ?” Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini, aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk dapat menghias meja majikan kita. Tanpa adanya kamu , majikan kita tidak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”

"Setiap orang memiliki cacat dan kelemahan sendiri. Kita semua adalah tempayan
retak, namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk maksud
tertentu. Dimata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma, Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu dapat menjadi sarana keindahan Tuhan. Ketahuilah dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita"


Kamis, 25 Juni 2009

Ucapkanlah Terima Kasih



Kita semua senang bila orang menghargai kita dan pekerjaan yang kita lakukan. Di banyak kantor, kita sering melihat orang-orang memamerkan kartu ucapan terima kasih dari pimpinan mereka, sepucuk surat khusus dari konsumen, atau selembar sertifikat penghargaan (yang mungkin umurnya sudah sangat tua). Hargailah pekerjaan!

Ucapkan terima kasih pada anggota tim anda. Berikan penghargaan atas keberhasilan dan prestasi mereka. Sampaikan terima kasih bila mereka berhasil melakukan kemajuan. Anda bisa melakukannya secara empat mata, secara terbuka, dalam bentuk tertulis, atau dengan cara-cara yang begitu kreatif. Orang-orang yang hasil kerjanya dihargai kemungkinan besar hasil kerjanya akan semakin baik juga.

Memperlihatkan sikap menghargai berarti menunjukkan apa yang anda inginkan dan apa yang menurut anda penting dilakukan. Tanpa umpan balik semacam itu, karyawan anda mungkin akan keliru menafsirkan apa yang bisa diterima atau dinilai tinggi.

Riset menunjukkan bahwa manusia haus akan penghargaan. Jika menerima pujian tulus atau apa yang berhasil dilakukan dengan baik, mereka tidak hanya merasa dihargai secara batiniah, tetapi juga membuahkan kebanggan tersendiri di kalangan keluarga dan teman-temannya. Hal ini akan meningkatkan penghargaan mereka pada anda sebagai pemimpin. Siklus itu lalu akan terus-menerus mempertahankan semangat. Sekali suatu tingkat penghargaan atas prestasi diberikan, karyawan akan bertindak dan berusaha mempertahankan citra yang telah berhasil mereka ciptakan. (RFM4)

- Kapankah Anda terakhir kali mengucapkan terima kasih pada seseorang dalam jajaran staff Anda?
- Kapankah Anda terakhir kali memuji seseorang dengan tulus atas keberhasilannya menyelesaikan pekerjaan dengan sangat baik?

- Hari ini siapakah yang menurut Anda harus mendapat pujian? .............................

by Resensinet 

Jumat, 12 Juni 2009

Tips Membuat Tulisan Tangan Menjadi Bagus

Anak-anak usia sekolah tentu sudah harus bisa menulis dengan baik serta bisa dibaca dengan benar. Berbeda dengan usia pra sekolah sebelumnya yang sebatas perkenalan. Nah, terkadang ada anak yang memang doyang menulis sehingga biasanya tulisanya memang rapi dan bagus. Tapi bagaimana bila ada yang kesulitan menulis dengan bagus atau ingin memperbaikinya?

Nah, beberapa tips berikut bisa anda coba ajarkan pada si kecil….yuk.
Pegang pensil dengan benar, yaitu dengan memegangnya menggunakan jari jempol, telunjuk dan jari tengah. Biar lebih jelas, lihat gambar di bawah ini.
Gunakan kertas bergaris untuk memandu tulisan.
Menulis secara perlahan / tidak terburu-buru.
Kurangi tekanan pensil pada kertas. Hal ini membuat lingkaran seperti kurva sulit dibentuk. Selain itu mengurangi tekanan berarti menghemat pensil yang patah dan menghindari kertas menjadi bolong dan robek.
Sering-seringlah bermain yang menggunakan keahlian menulis sebagai bagian dari permainannnya, terutama permaianan olah kata.
Seringlah berlatih menulis.

Nah, bila setelah menerapkan tips di atas ternyata anak masih kesulitan menulis dengan bagus, maka saatnya anda ekstra perhatian. Ada beberapa kasus dimana anak memelukan terapi khusus untuk mengatasinya. Tapi ada juga kemampuannya menulis meningkat sejalan bertambah usianya.

sumber : dokteranakku.com


Tips kreatif agar anak gemar merawat gigi.


Tips kreatif agar anak gemar merawat gigi.

Peran orangtua sangat penting untuk mengajarkan anak gemar merawat gigi sejak dini dengan baik. Karena Perawatan gigi dan mulut lebih maksimal jika dilakukan sejak usia 1 tahun. biasanya anak malas atau enggan menyikat giginya.

Untuk mengatasi kemalasan dan keengganan anak menyikat giginya, dibutuhkan cara kreatif agar anak-anak mulai menyukai kegiatan menyikat gigi dan membiasakan perawatan gigi dan mulut secara efektif.

Berikut beberapa tips dari Pepsodent yang bisa diterapkan pada anak anda…

1-Pilihlah pasta gigi favorit si kecil. Berikan pasta gigi dengan rasa kegemarannya seperti strawberry dan orange agar kegiatan menyikat gigi semakin menyenangkan bagi si kecil. Jangan lupa ajarkan anak untuk tidak menelan pasta giginya dan berkumur setelah menggosok gigi.

2-Tempat yang asyik. Jadikan tempat aktivitas menyikat gigi semenarik mungkin agar si kecil senang dan nyaman. Sebagai contoh alternatif, hiasi cermin dan wastafel dengan warna kesukaannya atau karikatur favoritnya. Ajaklah dia sikat gigi bersama sambil bercermin, pada kesempatan itu, ajarkan bagaimana cara tepat menyikat gigi.

3-Hari sikat gigi keluarga. Cara satu ini membutuhkan partisipasi seluruh anggota keluarga, dimana satu kali dalam sehari seluruh anggota keluarga wajib melakukan kegiatan sikat gigi bersama. Agar tidak bosan, iringi sikat gigi bersama keluarga ini dengan musik yang ceria ataupun favorit keluarga anda. Akan sangat baik jika moment sikat gigi bersama ini dilakukan tepat sebelum tidur malam. Selain merupakan waktu sikat gigi yang paling efektif, moment inipun bisa dijadikan ritual baru antara orangtua dan anak seperti ritual dongeng sebelum tidur.

Untuk memberikan motivasi agar rutin menyikat gigi, setiap kali anda mengajak si kecil menyikat gigi, berikan box atau dompet special berisikan sikat gigi, gelas, handuk kecil yang menarik. Atau temakan sesuatu seperti warna atau tokoh kartun idola.

Selingi sesi dongeng malam hari si kecil dengan mini operet menggunakan boneka koleksinya atau buatan anda sendiri. Salah satu ide cerita, tentang keluarga kuman yang senang tinggal di mulut yang kotor dan penuh sisa makanan. Karena banyak kuman, gigi akan sakit dan ngilu karena keluarga kuman yang suka sekali menggerogoti gigi.

Kualitas generasi penerus bangsa yang baik bisa dididik sejak dini. Sama halnya merawat gigi sejak dini harus dilakukan dengan waktu dan cara yang benar agar tumbuh kebiasaan yang baik di kemudian hari.

Sumber : kasturi-mawardah.blogspot.com

Kamis, 11 Juni 2009

Cara Pintar mengajar siswa TK membaca


Cara Pintar mengajar balita membaca

Balita cerdas merupakan dambaan orang tua, banyak faktor pendukung untuk mengajar balita mambaca, salah satunya penggunaan kartu anak yang berbentuk kids flashcards penggunaan kartu dengan berbagai macam tulisan

Kartu belajar membuat anak lebih peka dalam melihat, dan penggunaan kartu anak berbentuk kartu belajar merangsang pengelihata anak.

Bentuk kartu ini juga mendukung baby education yang bisa di betuk dari usia balita, dengan penggunaan baby card yang tepat, dan metode bermain yang cerdas baby education dengan menggunakan baby flashcards semakin efektif dan tidak membuat balita jenuh.

Baby flashcards yang unik bisa buat balita semakin tertarik dalam belajar, kids flashcards menggunakan bahan yang aman dan gambar yang besar sehingga memudahkan anak dalam menyerap materi.

Berikut tips menggunakan education card untuk anak anak, sehingga anak anak menggangap penggunaan education card ini bukan belajar tetapi bermain.

Dua faktor yang sangat penting dalam mengajar anak:
Sikap dan pendekatan orang tua: syarat terpenting adalah, bahwa diantara oran tua dan anak harus ada pendekatan yang menyengakan, karena belajar membaca merupakan permainan baby card yang bagus sekali.

Belajar adalah:
Hadiah bukan hukuman
Permainan yang paling menggairahkan, bukan bekerja
Bersenang-senang, bukan bersusah payah
Suatu kehormatan, bukan kehinaan

Hal penting kedua adalah membatasi waktu untuk melakukan permainan ini sehingga betul- betul singkat. Hentikan permainan ini sebelum anak itu sendiri ingin menghentikannya.

Bahan yang sesuai:
bahan-bahan dibua tdari kertas putih yang agak kaku (karton poster)
kata-kata yang dipakai ditulis dengan spidol besar
tulisannya harus rapi dan jelas, model hurufnya sederhana dan konsisten

Tahap pertama: (perbedaan penglihatan)

Mengajarkan anak anda membaca dimulai menggunakan hanya lima belas kata saja. Jika anak anda sudah mempelajari 15 kata ini, dia sudah siap untuk melangkah ke perbendaharaan kata-kata lain:
Ukuran karton : tinggi 15 cm, panjang 60 cm
Ukuran huruf, tinggi 12,5 cm dan lebar 10 cm,serta setiap huruf berjarak kira-kira 1,25 cm
Huruf berwarna merah
Gunakan huruf kecil (bukan huruf kapital)
Buatlah hanya 15 kata, misal IBU (UMMI/MAMA/BUNDA), BAPAK (ABI/PAPA/AYAH)
Ke-15 kata-kata pertama harus terdiri dari kata-kat yang paling dikenal dan paling dekat dengan lingkungannya yaitu nama-nama anggota keluarga, binatang peliharaan, makanan kesukaan, atau sesuatu yang dianggap penting untuk siketahui oleh sang anak.

Gunakan tempat bagian rumah yang paling sedikit terdapat benda-benda yang dapat mengalihakan perhatian, baik pendengarannya maupun penglihatannya. Misalnaya jangan ada radio yang dibunyikan.
Tunjukkan education flashcards bertuliskan IBU/AYAH atau yang lainnya
Jangan sampai ia dapat menjangkaunnya
Katakan dengan jelas ‘ini bacaannya IBU/AYAH
Jangan jelaskan apa-apa
Biarkan dia melihatnya tidak lebih dari 1 detik
Tunjukkan 4 education flashcards lainnya dengan cara yang sama
Jangan anak suruh mengulang apa yang anda ucapkan
Setelah kata ke-5, peluk, cium denga hangat dan tunjukkan kasih sayang dengan cara yang menyolok
Ulangi 3 kali dengan jarak paling sedikit 1 jam

Sumber : kamissore.blogspot.com


MENGAJAR ANAK MENULIS


AJARI ANAK MENULIS HURUF LEBIH KECIL

Jangan anggap sebelah mata pelajaran yang satu ini. Motorik halusnya terasah dan tulisan tangannya makin terbaca.

“Buat apa di zaman globalisasi begini anak masih dikasih pelajaran menulis halus? Mending diganti pelajaran lain, deh, seperti mengetik dengan komputer.” Begitu ketidaksetujuan yang kerap terdengar di kalangan orang tua. Mereka menganggap pelajaran menulis halus hanya buang-buang waktu. Toh, ada komputer yang bisa menghasilkan tulisan rapi.

Kendati begitu, grafolog Nungki Nilasari, S.Psi. mengingatkan pentingnya manfaat menulis halus. “Bukan sekadar mempercantik atau merapikan tulisan, lo, tapi juga melatih anak melakukan berbagai hal berikut:

- Menulis Cepat

Menulis halus untuk menghasilkan huruf yang saling bersambung dilakukan tanpa perlu mengangkat pensil. Ini berbeda dengan menulis balok yang mengharuskan anak acap kali mengangkat pensilnya. Proses menulis pun jadi lebih lambat, sementara anak juga lebih mudah lelah.

Kelak, jika terbiasa menulis halus, anak tetap bisa menulis cepat tanpa menghilangkan kerapian dan keindahan tulisannya. Tentu saja kerapian dan keindahan tulisan mustahil dicapai dalam waktu singkat. Jadi, butuh pelatihan kontinyu untuk mendapatkan hasil yang baik.

- Melatih Motorik Halus

Sebenarnya, latihan ini tak hanya didapat lewat menulis halus, tapi juga menulis balok. Namun biasanya dengan latihan menulis halus, anak cenderung memperhatikan patokan baku, yakni mengikuti patokan garis 5 atau 3. Contohnya, bulatan huruf “a” tidak boleh melebihi garis, begitu juga kaki dan tiangnya tidak boleh lebih panjang dari garis yang membatasinya. Demikian halnya dengan aturan menyambungnya yang mesti mengikuti kaidah tebal-tipis.

- Merangsang Kerja Otak

Dengan menulis halus, mau tidak mau anak mesti “memutar” otaknya untuk bekerja. Bagaimana dia harus membentuk huruf, menyambungnya, mengikuti garis yang ada, dan sebagainya. Dengan kata lain, otak tidak dibiarkan menganggur, tapi digunakan untuk kegiatan bermanfaat. Bukankah ini berarti menulis halus merupakan salah satu aktivitas yang bisa meningkatkan kecerdasan anak secara umum.

DAHULUKAN HURUF BALOK

Konsultan perkembangan anak di Parents Consulting Centre, Jakarta Selatan ini berpendapat, anak lebih baik diajarkan menulis huruf balok terlebih dulu. Bagaimanapun, memperkenalkan sesuatu pada anak harus dimulai dengan yang lebih mudah. Sementara huruf balok relatif lebih mudah dikuasai anak karena dalam menuliskannya tidak perlu disambung dengan huruf yang mengawali ataupun mengikutinya.

Yang juga penting untuk diingat, dengan menuliskan huruf balok, umumnya anak lebih mudah untuk melihat bentuk dan membacanya. Hal ini akan memicu anak untuk melakukannya lagi dan lagi yang akan kian memupuk rasa percaya diri anak. Berbeda benar bila hasil yang didapat tidak bisa langsung dinikmatinya berupa bentuk kriwil-kriwil saat ia menuliskan huruf sambung. Bukan tidak mungkin, lo, anak akan minder atau patah semangat saat ia merasa tidak mampu menuliskan huruf-huruf sambung tersebut. Atas dasar pertimbangan-pertimbangan itulah, umumnya menulis halus baru diajarkan kalau anak sudah mampu dan memahami huruf balok dengan baik. “Di sekolah biasanya huruf halus diajarkan di akhir semester kelas 1 atau awal kelas 2,” ujar Nungki.

Setelah mengerti penulisan huruf balok, barulah anak dikenalkan pada aktivitas menulis halus yang lebih kompleks dan lebih tinggi tingkat kesulitannya. Berbeda dengan huruf balok, saat menulis huruf sambung yang berlekak-lekuk, anak dituntut terampil menyambung huruf tersebut, baik dengan huruf yang mengawali maupun setelahnya.

“Ketika mengajarkan huruf halus,” lanjut Nungki pula, “beri contoh nyata di papan tulis karena anak usia ini masih membutuhkan sesuatu yang konkret.” Percuma saja dijelaskan panjang lebar jika tanpa disertai contoh karena anak tidak akan mengerti apa yang diucapkan guru. Jadi, jelaskan bagaimana bentuk masing-masing huruf, di mana ia harus menempatkan bulatan, tiang, atau kaki huruf pada setiap garis batas dan bagaimana pula cara menyambungnya. Jelaskan pula, bahwa huruf-huruf seperti itulah yang disebut huruf sambung.

Ketika pertama kali mengajari anak menulis halus, biasanya akan muncul banyak keluhan. “Wajarlah karena kemampuan motorik halus anak memang belum matang. Ia masih mengalami kesulitan untuk mematuhi batas-batas garis. Nah, agar anak tetap menunjukkan usaha memperbaikinya, guru maupun orang tua jangan sekali-kali menunjukkan sikap melecehkan, tapi beri dukungan dengan menyemangati dan membantu mengarahkannya.

AJARKAN BERTAHAP

Baik orang tua maupun guru, hendaknya memahami perbedaan kemampuan tiap anak yang memang sifatnya amat individual. Ada yang cepat daya tangkapnya, ada juga yang lambat. Ada yang tulisannya bagus dan enak dibaca, namun tak sedikit yang membentuk kriwil-kriwil yang sama sekali sulit dibaca. Dengan kata lain, “Jangan pernah membanding-bandingkan kemampuan anak yang tulisannya bagus dengan anak yang tulisannya jelek,” tandas Nungki. Berikut hal-hal teknis yang bisa disampaikan kepada anak:
Ajari anak memegang pensil secara benar menggunakan tiga jemari, yakni ujung ibu jari, ujung telunjuk, dan ujung jari tengah. Jepit pensil di antara ketiga jari tadi sambil menekannya agak kuat. Bila anak belum bisa memegangnya dengan sempurna, ajarkan dulu, jangan langsung memintanya menulis. Posisi memegang pensil yang benar akan membuatnya nyaman saat menulis.
Jelaskan pula posisi tubuh yang benar, yakni dengan duduk tegak namun tidak kaku, kertas tegak lurus dengan posisi meja dan jangan dimiringkan. Jarak antara mata dengan tulisan sekitar 30 cm, sementara salah satu tangan digunakan untuk menahan buku agar tidak bergeser.
Arahkan anak untuk membentuk huruf balok dulu, baru kemudian menuliskan huruf halusnya. Dengan begitu anak memiliki pembanding. Secara perlahan buatlah guratan, hingga anak dapat mengikuti arah guratan tersebut. Agar jelas, buatlah dalam ukuran besar lebih dulu. Lakukan berulang-ulang sampai anak bisa mengikutinya. Jangan berpindah huruf sebelum anak benar-benar memahami cara menuliskan masing-masing huruf.
Bisa juga mengajarkannya dengan menghubungkan titik-titik yang sudah berbentuk huruf.
Bila ada buku panduan, manfaatkan dengan meminta anak menjiplak masing-masing huruf.
Setelah anak memahami penulisan huruf demi huruf, mintalah untuk menyambungkannya. Misal, “a” disambung huruf “b”, “c” dengan “i”, “d” dengan “u”, dan seterusnya.
Kalau anak sudah menguasai cara penulisannya, mintalah untuk membuat kata-kata dan kalimat sederhana sambil mengajarkannya untuk lebih tertib menggunakan jarak antarkata maupun spasi antarbaris.
Jangan lupa, perhatikan kondisi anak saat menulis. Kalau ia tenang, maka biasanya ia dapat menulis dengan lancar. Bila bosan atau emosional, maka tulisannya akan terpengaruh.

FAKTOR PEMBEDA

Menurut Nungki ada beberapa faktor yang membuat kemampuan anak dalam menulis ini berbeda-beda. Di antaranya:

- Kontrol Tangan

Hal ini terkait dengan kemampuan motorik halus anak. Bila kemampuan motorik halusnya jelek, sangat mungkin ia tidak mampu menulis huruf dengan baik. Gangguan motorik halus yang masih dalam taraf normal, menurut Nungki bisa ditangani dengan latihan keterampilan yang lebih tekun, umpamanya dengan mengajarkan melipat kertas, menggunting, mengancingkan baju, menggambar, mewarnai, dan sebagainya. Aktivitas-aktivitas tersebut dapat meningkatkan kemampuan anak mematangkan koordinasi gerak tangannya.

Sebaliknya, pada anak yang memiliki kemampuan kinestetik lebih, biasanya akan mampu menerima pelajaran menulis secara lebih cepat. Bukan tidak mungkin pula si anak berbakat dalam hal menulis indah/kaligrafi atau malah menjadi pelukis.

- Kemampuan Visualisasi

Kemampuan ini pun perlu dikuasai karena tidak sedikit anak mengalami kesulitan memvisualisasikan bentuk. Contohnya, ia selalu menuliskan huruf “o” seperti huruf “a”. Gangguan kemampuan ini disebabkan oleh ketimampuan anak mendeskripsikan masing-masing huruf. Misalnya, “o” itu mesti bulat, “i” harus lurus seperti tiang listrik, “p” berkepala, “m” berkaki tiga dan seterusnya.

Bila kesalahan semacam ini terjadi terus-menerus dan dalam jangka waktu lama, padahal sudah diajarkan berulang-ulang, guru dan orang tua harus curiga. Mungkin ada gangguan tertentu, seperti disleksia, di mana anak dengan gangguan ini tidak bisa membedakan huruf.

- Masalah Emosional

Mau tidak mau, kondisi emosional yang tidak stabil akan mempengaruhi kemampuan anak menulis. Bila di rumahnya selalu ada masalah, entah karena kekangan orang tuanya atau
karena keinginan-keinginannya yang tidak pernah terpenuhi, jangan terlalu berharap tulisan anak akan bagus. Sebuah penelitian di Jerman menyebutkan, anak yang sangat emosional karena banyak masalah umumnya akan menghasilkan tulisan berupa huruf-huruf yang mengecil dan kurang beraturan. Sebaliknya, mereka yang emosinya stabil konon tulisannya cenderung membesar dan lebih rapi.

Benarkah Cermin Kepribadian?

Menurut Nungki, memang ada korelasi antara tulisan yang rapi dengan kepribadian yang rapi teratur. Lewat grafologi atau ilmu “membaca” tulisan biasanya bisa terlihat mana orang yang termasuk berkepribadian rapi/teratur dan mana yang tidak. Setidaknya, dari situ tercermin standar kerapian seseorang, entah kerapian dalam berpakaian atau
kerapian secara umum.

Hanya saja, model tulisan anak usia SD belum menetap. Masih ada kemungkinan untuk berubah kelak berdasarkan pengaruh situasi emosi dalam dirinya. Selama di SD ia mungkin hanya mengikuti semua instruksi gurunya, dan kondisi emosionalnya juga relatif stabil. Tidak tertutup kemungkinan garis huruf yang tadinya tegas menjadi kurang tegas, yang semula mengalur halus menjadi berbelok-belok, dan
yang awalnya kecil menjadi besar-besar. Sementara setelah dewasa, anak memiliki kebebasan untuk menentukan sendiri model tulisannya, disamping pengaruh faktor emosional yang relatif kurang stabil dibanding usia anak.

Sumber : www.tabloid-nakita.com