Tampilkan postingan dengan label ketupat lebaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ketupat lebaran. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Agustus 2013

Selamat Idul Fitri 1434 H




KELUARGA BESAR SEKOLAH DAPENA  YAYASAN DAPENA
Pengurus, Guru dan Karyawan

Mengucapkan

SELAMAT IDUL FITRI 1434 H

Kamis, 28 Juni 2012

Mencegah Anak Terlalu Lama di Depan Komputer

Mencegah Anak Terlalu Lama di Depan Komputer

[Internet Sehat]  Khawatir anak-anak kehilangan waktu bermain di luar bersama teman-teman dunia nyatanya? Ini bukan hal berlebihan, mengingat anak-anak masa kini lebih suka berlama-lama di depan komputer ketimbang bermain di halaman rumah.
Membatasi lamanya anak-anak berkomputer-ria adalah salah satu cara yang bisa dilakukan. Ini juga upaya membuat mereka tidak kecanduan teknologi, dan kehilangan hasrat untuk berinteraksi sosial secara langsung di dunia nyata.  Setidaknya sejak kecil mereka sudah terbiasa untuk membagi waktu antara kehidupan dunia maya dan dunia nyata.
Berikut adalah acuan yang bisa dipakai dalam pembatasan waktu untuk anak-anak sesuai usia mereka:
  • Bayi, atau usia 1-2,5 tahun:
Sudah cukup banyak orang tua yang memperkenalkan komputer baik itu PC atau tablet pada anak usia ini. Biasanya karena orangtuanya juga banyak menghabiskan waktu dengan komputer. Idealnya anak usia ini cukup 10-15 menit saja sehari berkutat di depan komputer.
  • Usia pra sekolah, atau 2,5-5 tahun
Ini adalah usia anak mulai banyak bereksplorasi di dunia nyata. 30 menit saja sehari di depan komputer sudah cukup maksimal bagi mereka.
  • Usia Sekolah Dasar
Beri mereka waktu 30-45 menit sehari untuk bebas bermain dengan komputer, tapi selebihnya harus mengerjakan PR dengan komputernya jika memang sekolahnya sudah mengharuskan demikian. Begitu PR selesai, komputer dimatikan.
  • Usia SMP
Di luar kepentingan untuk membuat PR atau tugas sekolah, beri dia tdak lebih dari sejam saja sehari untuk bermain-main dengan komputer.  Tapi ada tambahan bonus di saat akhir pekan atau liburan, 1 jam lagi.
  • Usia SMA
Dua jam per hari di luar tugas sekolah rasanya sudah cukup.  Beri juga bonus 2 jam ekstra di hari libur.
Pembatasan waktu di depan komputer bisa dilakukan dengan memasang software seperti parental control. Atau bisa juga memakai sistem alarm yang sederhana.  Yang terpenting adalah anak paham mengapa orang tua membatasi waktu mereka.

[Internet Sehat] 
Sumber artikel: familyinternet.about.com / Sumber gambar: ehow.com

Rabu, 08 September 2010

...::: FILOSOFI KETUPAT IDUL FITRI :::...

Semoga bisa menjadi renungan



Ketupat selalu identik dengan yang namanya lebaran, tetapi sebenarnya apa yang membuat ketupat menjadi tradisi di waktu Lebaran????

Ketupat memiliki arti tersendiri, selain dari nama dan bentuk, proses pembuatan ketupat sendiri memiliki makna dan arti dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Beras ternyata merupakan simbol dari nafsu dunia, sedangkan janur merupakan kependekan dari “jatining nur” atau bisa diartikan hati nurani. Jadi ketupat itu simbol dari nafsu dunia yang bisa ditutupi oleh hati nurani. setiap manusia itu punya hawa nafsu, tetapi nafsu itu bisa dikendalikan atau dikekang oleh hati nurani.

Bentuk persegi ketupat juga diartikan masyarakat Jawa sebagai perwujudan kiblat papat limo pancer. Ada yang memaknai kiblat papat limo pancer ini sebagai keseimbangan alam: 4 arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara. Akan tetapi semua arah ini bertumpu pada satu pusat (kiblat). Bila salah satunya hilang, keseimbangan alam akan hilang. Begitu pula hendaknya manusia, dalam kehidupannya, ke arah manapun dia pergi, hendaknya jangan pernah melupakan pancer (tujuan): Tuhan yang Maha Esa.

Kiblat papat limo pancer ini dapat juga diartikan sebagai 4 macam nafsu manusia dalam tradisi jawa: amarah (emosi), aluamah (nafsu lapar), supiah (memiliki sesuatu yg bagus), dan mutmainah (memaksa diri).
Keempat nafsu ini adalah empat hal yang kita taklukkan selama berpuasa, jadi dengan memakan Ketupat, disimbolkan bahwa kita sudah mampu melawan dan menaklukkan hal ini.

Ketupat dalam bahasa Jawa disebut “Kupat”
Kupat merupakan kependekan dari “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan. Itulah mengapa setiap Hari Raya Idul Fitri selalu ada tradisi saling memaafkan.

Ketupat atau Kupat juga dapat diartikan “Laku Papat” atau empat tindakan.

Idul Fitri atau yang biasa disebut Lebaran erat kaitannya dengan “Laku Papat” ini. Keempat tindakan itu adalah Lebaran, Luberan, Leburan, Laburan.

-Lebaran, berasal dari kata “Lebar” (selesai)
Itulah mengapa Idul Fitri atau 1 Syawal biasa disebut Lebaran yang dimaksudkan telah selesai menjalani ibadah puasa Ramadhan. Istilah Lebaran hanya dikenal di Indonesia dan negara selain Indonesia tidak mengenal istilah Lebaran ini.

-Luberan, berasal dari kata “Luber” (meluap/melimpah)
Kata ini memberikan pesan untuk berbagi dengan sesama terutama dengan orang yang kurang beruntung, yakni sedekah secara ikhlas, seperti lubernya air dari tempatnya. Hal ini juga dapat kita jumpai pada bulan Ramadhan yakni pemberian zakat fitrah, infaq dah sedekah.

-Leburan, (melebur/menghilangkan)
Seiring dengan pengertian “ngaku lepat“, yakni mengakui kesalahan dan saling memohon maaf. Dalam masyarakat Jawa, permohonan maaf ini biasanya dilakukan dengan tradisi sungkeman, yakni permohonan maaf dari orang yang lebih muda kepada yang lebih tua atau dari anak kepada orang tuanya. Kalimat yang biasanya diucapkan adalah “Mugi segedo lebur ing dinten meniko” maksudnya semua kesalahan dapat dilepas dan dimaafkan pada hari tersebut.

-Laburan, dari kata “Labur” atau (kapur)
bahan untuk memutihkan dinding.
Kebiasaan masyarakat Jawa sebelum Lebaran adalah melabur atau memutihkan dinding rumah agar terlihat bersih pada saat Lebaran. Hal ini juga memberikan pesan bahwa agar senantiasa menjaga kebersihan lahir dan batin. Jadi setelah melaksanakan Leburan (saling memaafkan) dipesankan untuk selalu menjaga sikap dan tindakan yang baik, sehingga mencerminkan budi pekerti yang baik pula.