Selasa, 25 Mei 2010

Spiritualitas Bagi Orang Sakit



Spiritualitas Bagi Orang Sakit


"Manusia tidak akan binasa oleh penderitaan. Namun, ia dibinasakan oleh penderitaan yang tanpa makna." (Victor Frankl)

Gaya hidup sehat belum menjadi milik semua orang. Akibatnya, berbagai penyakit mengakrabi sebagian dari kita. Betapa banyak penyakit yang populer saat ini, seperti tekanan darah tinggi, stroke, jantung, diabetes, hepatitis, demam berdarah, cacar air, gagal ginjal, kanker, HIV/AIDS, dan flu burung.

Belum lagi penyakit-penyakit langka, seperti burger’s disease yang diderita oleh Danny Hoffmann (pelatih bulu tangkis) atau multiple sclerosis (MS) yang diderita oleh "Pepeng" Soebardi, dan sebagainya.

Sakit adalah konsep abstrak yang menunjuk adanya sensasi luka yang sifatnya pribadi (privat, personal) atau suatu stimulus berbahaya yang saat ini atau pada masa mendatang merusak jaringan tubuh.

Akibat dari stimulus sakit itu tentu saja tidak nyaman. Khususnya pada penderita penyakit akut, biasanya mereka mengalami perasaan-perasaan negatif, seperti gelisah, bingung, tidak nyaman, dan menjadi sensitif.

Dalam kesempatan wawancara yang dilakukan oleh penulis terhadap beberapa orang yang pernah sakit serius (dirawat di rumah sakit), muncul berbagai ungkapan yang menunjukkan gambaran perasaan yang menyertai sakitnya itu.

Salah seorang mengatakan, "Orang sakit itu kan bukan hanya fisiknya. Seperti orang stroke itu bukan hanya fisiknya, tetapi ditambah lagi perasaan minder."
Yang lain bilang, "Orang kalau sakit itu seakan-akan sakitnya paling hebat. Butuh dilayani...."

Yang lain lagi mengatakan, "Orang sakit itu hatinya semakin peka, perasaannya peka." Ada yang sekadar mengatakan, "Sakit itu kan enggak enak…." Selebihnya mengatakan, "Yang aku inginkan adalah bagaimana perasaanku bisa tenang."

Pengalaman subyektif
Sakit merupakan pengalaman subyektif yang sulit dimengerti oleh orang lain, termasuk perawat. Hal ini digambarkan Copp (Baylor, 1982) dari hasil surveinya. Ia melaporkan, banyak pasien merasa bahwa para perawat tidak peduli terhadap respons sakit pasien.

Peneliti lain, Taylor, menyatakan bahwa pasien di rumah sakit menunjukkan gejala-gejala psikologis, terutama kecemasan dan depresi, sehingga tidak menutup kemungkinan kondisi psikologis ini justru akan memperparah sakit mereka.

Petrie (Baylor, 1982) melihat kenyataan adanya berbagai persepsi mengenai pengalaman sakit, ia mengembangkan gagasan membedakan individu sebagaiaugmenters atau reducers.

Augmenters adalah orang yang membesar-besarkan pengalaman sakit dan sebaliknya reducers adalah orang yang menganggap ringan pengalaman sakit. Perawat ataupun pasien, ada yang termasuk augmenters, ada yang reducers.

Kombinasi augmenters dan reducers pada perawat dan pasien dapat menghasilkan komplikasi dalam menjajaki dan menangani pasien dengan pengalaman sakit.
Meski umumnya kondisi sakit dirasa tidak menyenangkan, banyak pasien yang melaporkan bahwa pengalaman sakit dapat bernilai atau merupakan peristiwa yang bermakna.

Baylor mengutip pandangan seorang humanis, Joyce Travelbee, bahwa sakit dan penderitaan dapat menjadi aktualisasi diri jika seseorang dibantu untuk menemukan makna dalam pengalaman sakitnya.

Kok bermakna?
Banyak kisah sedih mengenai orang sakit. Khususnya mereka yang mengalami penyakit bertahun-tahun, penderitaan itu tentu dirasa tak kunjung selesai. Selain ada rasa sakit, ketidaknyamanan juga terjadi karena aktivitas fisik dan mental terhambat. Belum lagi jika kehilangan pekerjaan, kehilangan bagian tubuh tertentu karena penyakit diabetes, burger’s disease, dan sebagainya.

Tak jarang pasien putus asa hingga bunuh diri. Namun, kita pun tahu ada orang-orang yang mampu bertahan dan tetap optimistis menghadapi penyakit berat. Sungguh kita pantas memberikan acungan jempol, bahkan standing ovation.

Pentingnya spiritualitas
Spiritualitas adalah kata kunci yang membuat seseorang menemukan makna hidupnya. Tidak ada definisi yang mutlak untuk spiritualitas. Meski begitu, seorang penulis pada jurnal kesehatan di Inggris mencoba merangkum esensi spiritualitas dalam konteks kesehatan sebagai berikut:

"Spiritualitas adalah suatu kualitas yang melebihi afiliasi religius, yang membangkitkan inspirasi, penghormatan, perasaan kagum, makna, dan tujuan…. Dimensi spiritualitas meliputi usaha untuk menjaga harmoni dengan alam semesta dan berusaha keras menemukan jawaban-jawaban atas sesuatu yang tak terbatas dan menemukan fokus ketika seseorang menghadapi tekanan emosional, sakit fisik, dan kematian." (Foster, 2005).

Spiritualitas berkaitan erat dengan komitmen religius. Sejumlah studi menemukan kaitan antara komitmen religius dan keadaan tak sehat (morbidity, mortality) pada pasien dengan berbagai penyakit.

Di antara orang yang lebih sering mengunjungi tempat berdoa, jumlah kematian lebih sedikit dibandingkan yang tidak pernah mengunjungi tempat pelayanan doa (Puchalsky, 2001). Hal ini menunjukkan bahwa spiritualitas atau komitmen religius sangat bermanfaat untuk kesehatan penderita sakit.

Puchalsky, praktisi dari George Washington University Medical Center, juga mengemukakan adanya hasil survei yang menunjukkan bahwa spiritualitas sangat penting bagi pasien. Kebanyakan pasien menginginkan dokter yang merawat mendiskusikan tentang keyakinan spiritual dengan mereka.

Hasil survei tersebut tampak sesuai dengan kenyataan. Banyak orang yang justru menemukan makna hidupnya melalui pengalaman sakit. Hal tersebut tampaknya terjadi karena mereka yang sakit, seperti halnya orang lain yang sedang menghadapi penderitaan atau kesulitan hidup lainnya, membutuhkan jawaban atas kondisi mereka yang terbatas. Mereka merindukan jawaban atas masalah yang tidak sanggup dihadapi sendiri dengan keterbatasannya.

Menemukan fokus
Dalam kondisi tak seimbang dengan penyakit yang diderita, seseorang dihadapkan pada kenyataan untuk menjaga harmoni dengan alam semesta, berusaha keras menemukan jawaban atas sesuatu yang tak terbatas, dan menemukan fokus ketika menghadapi tekanan emosional, sakit fisik, dan kematian.

Dari sini akhirnya lahirlah inspirasi, perasaan hormat dan kagum akan kehidupan, perasaan akan makna dan tujuan. Itulah spiritualitas yang berkembang dalam keadaan sakit!

Mengapa mereka berhasil menemukan spiritualitas semacam itu? Satu hal yang perlu disimak dalam kisah para tokoh publik di atas ialah bahwa dalam ketidakberdayaan itu mereka menemukan cinta yang sangat besar, terutama dari orang-orang terdekat, dan juga perhatian dari orang-orang lain yang mengenal mereka.

Cinta inilah yang merupakan sumber spiritualitas mereka. Cinta inilah yang memberikan inspirasi bagi mereka untuk tetap bertahan hidup, menemukan kekuatan, makna, dan tujuan.

Pada akhirnya kita dihadapkan pada pertanyaan: bagaimana nasib mereka yang tidak mendapatkan cinta sebesar itu? Mereka berharap dapat menemukan spiritualitas dari para dokter atau orang lain yang merawatnya.

Ketika tak ada jawaban dari mereka, mari kita berusaha lebih solider dengan mereka yang sakit dalam keadaan terpencil, kesepian, tanpa orang lain yang mengasihi. @

http://e-smartschool.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=519&Itemid=1
M.M Nilam Widyarini MSi
Kandidat Doktor Psikologi
Sumber : www.kompas.com

Tidak ada komentar: