Tampilkan postingan dengan label Kreatifitas siswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kreatifitas siswa. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 November 2011

79% User Tak Bisa ‘Lepas’ dari Facebook

Seberapa tergantungkah Anda dengan Facebook? Berapa lama Anda bisa ‘bertahan’ untuk tidak berinteraksi dengan Facebook?

Coed magazine, College Candy dan Busted Coverage menggelar sebuah studi terhadap 2.500 orang. Hasilnya, 79 persen responden ternyata tidak bisa jauh-jauh dari Facebook. Mereka tidak bisa seharian tidak memakai Facebook baik lewat komputer atau perangkat mobile.

Hampir 50 persen responden mengaku cemas dengan ketergantungan mereka terhadap layanan jejaring sosial tersebut, baik hanya sekedar mengecek berita dan mendapatkan update tentang teman-teman mereka.

Temuan lain dari studi ini adalah, lebih dari 40 persen responden mengaku mengecek Facebook sebelum menyikat gigi (setelah bangun tidur) di pagi hari.

Terkait dengan sifat adiktif dari layanan tersebut, 20 persen responden yang menghapus profil Facebook mereka karena frustrasi ujung-ujungnya membuat profil Facebook yang baru. Namun, 70 persen responden menyatakan akan menghapus profil Facebook mereka secara permanen jika Facebook sudah menjadi layanan berbayar.

Lalu, sebanyak 92 persen mengaku kalau update status Facebook cukup mengganggu. Update status yang dianggap paling menjengkelkan termasuk lirik lagu, update status dan update fan page. Update status politik juga diklaim cukup mengganggu, disusul dengan update foto bayi yang diposting oleh teman-teman mereka dan update lokasi check-in Facebook.

65 persen responden merasa malu jika orang lain bisa melihat siapa saja teman yang paling sering mereka cek. Hanya 6 persen yang mengaku putus dengan pasangan via Facebook. Dan lebih dari 66 persen mengatakan mereka tidak menilai orang lain berdasarkan seberapa banyak jumlah teman yang mereka miliki di Facebook.

Sumber: Digital Trend

[dew / Internet Sehat]

10 Konsol Video Game Terbaik untuk Anak

Video game dalam bentuk konsol menyerbu pasar dan tentu saja ini memanjakan para pecinta game, tak terkecuali anak-anak. Namun apakah piranti-piranti tersebut cocok dikonsumsi anak-anak? Jangan salah pilih. Jika Anda bingung, maka daftar konsol video game terbaik untuk anak berikut mungkin bisa membantu Anda dalam memilihkan piranti yang paling cocok untuk si buah hati di rumah.

1. Nintendo Wii
Kalau Anda khawatir jika anak Anda hanya duduk saja memainkan video game, maka Nintendo Wii bisa menjadi pilihan menarik. Konsol ini dilengkapi dengan seabreg game motion-control alias memungkinkan penggunanya untuk aktif bergerak dengan cara yang menyenangkan. Wii Music salah satunya, ia menjadikan penggunanya bermain seolah-olah ia pemain band, lengkap dengan alat-alat musik dan melodinya.

2. Sony Playstation 3
Anak Anda akan dimanjakan dengan lineup game yang berkualitas tinggi di konsol Sony Playstation 3. Kemudian setelah mereka capek bermain, maka Anda sekeluarga akan bisa menikmati pusat hiburan yang juga berteknologi high-definition seperti musik, album foto, serta DVD berformat Blu-Ray.

3. Sony Playstation 3 With Move
Dengan penambahan kata ‘move‘, game berteknologi HD ini mengkombinasikan video kamera motion-capture (seperti XBox Kinect) dengan tongkat yang berjalan dengan motion-sensitive (seperti Wii). Sistem yang dimilikinya memiliki game yang cocok dengan anak-anak seperti EyePet di mana mereka bisa merawat binatang peliharaan virtual.

4. Microsoft Xbox 360
Segudang koleksi game anak-anak dipunyai Xbox, bahkan Xbox Live tetap menjaga keasyikan yang mereka tawarkan dengan membiarkan anak-anak bermain head-to-head bersama teman-teman online mereka.

5. Microsoft Xbox 360 With Kinect
Kinect bekerja tanpa menggunakan pengontrol sehingga anak-anak bisa ngegame dengan memaksimalkan badannya. Platform ini memakai sistem kamera serta mikrofon, layaknya wajah si anak, untuk mengenali pergerakan dan merilis avatar. Kelebihan lain yang dimiliki Kinect ialah bahwa konsol ini bisa menyadari jika penggunanya meninggalkan ruangan sehingga ia akan otomatis mem-pause permainan.

6. Nintendo DSi
DSi adalah piranti handheld kaya warna yang memiliki 2 layar serta stylus. Tak hanya itu, ia juga dilengkapi dengan kamera built-in depan belakang sehingga anak-anak bisa berfoto ria dengan teman-temannya. Sejumlah efekpun melengkapi fitur ini sehingga mereka bisa memainkan berbagai macam aksesoris di foto.

7. Nintendo DSi XL
Anak-anak tak perlu berebut memainkan konsol ini karena Dsi XL mempunyai 2 layar yang diperbesar sesuai sudut pandang dan suara yang jernih, sehingga pemain lain bisa ikut merasakan sensasi permainan sembari menunggu giliran mereka. Game seperti ‘Brain Age Express: Arts and Letters bisa dijajal di mana ia menawarkan tntangan permainan kata dan gambar.

8. Sony PSP Go
Selain bisa memainkan video, Sony PSP Go juga bisa menyimpan setidaknya 10 game beresolusi tinggi di dalam 16 GB memori internalnya. Pengguna bisa pula mendownload aolikasi gratis untuk menambahkan musik sebagai soundtrack permainan. Dilihat dari bentuknya, Sony PSP Go memiliki body yang cukup kecil untuk dimasukkan ke dalam kantong sehingga anak-anak akan ingat di mana meletakkannya.

9. Sony PSP 3000
Sony PSP 3000 sudah dilengkapi dengan Wi-Fi sehingga anak-anak bisa selalu terkoneksi dengan internet dan bermain dengan teman-teman onblinenya dalam mode multiplayer. Anak-anakpun bisa mencoba program Skype yang sudah built-in di dalam konsol ini. Dan apabila dirasa layar piranti ini terlalu kecil, maka ia bisa dikoneksikan ke TV dengan grafik yang tetap high-tech.

10. iPad
Piranti keluaran Apple ini memang bukanlah sebuah video game, namun ia bisa menjadi barang favorit keluarga. Anak-anak bisa menikmati game-game serta program-program berbau pendidikan bersama orang tua mereka. Selain itu, dengan adanya konten musik dan foto, iPad bisa menjadi pusat hiburan yang tak ada habisnya.

Sumber: Parenting

[dew / Internet Sehat]

Anak Anda Kecanduan Game Online? Kenali Ciri-cirinya!


Komputer dan game adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak-anak masa kini. Bagi kebanyakan anak remaja, bermain game di komputer, konsol, atau perangkat genggam adalah salah satu kegiatan rutin yang mereka lakukan setiap hari. Sebenarnya tak masalah selama masih dalam batas wajar, bagaimanapun mereka hidup dan berkembang di jaman serba teknologi.

Game-game beraliran Massively Multiplayer Online Role-Playing Game (MMORPG) seperti “World of Warcraft” nyatanya berhasil menarik jutaan pemain setiap harinya. Umumnya pemain menikmati hobi mereka ini sampai rela berjam-jam ngegame. Banyak pula yang mengaku tidak bisa berhenti bermain.

Namun bagaimana jika sudah sampai mengganggu aktivitas lain, misal sudah tidak peduli dengan kehidupan di luar, nilai sekolah jeblok, tidak mau lagi beraktivitas di kegiatan ekskul, menarik diri dari dunia luar atau sering terpaku berlama-lama ngegame di depan komputer / gadget elektronik lainnya? Besar kemungkinan anak sudah kecanduan game.

Kecanduan game memang tidak termasuk dalam klasifikasi diagnostik dan statistik gangguan mental, atau yang biasa disebut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). Meskipun demikian, banyak pakar kesehatan mental mengatakan bahwa bermain video game hampir sama dengan bermain judi dalam hal proses kecanduannya.

Lalu mengapa bisa kecanduan?

Ketahuilah bahwa di game multiplayer online, para pemain bisa berperilaku sangat kontras dengan kepribadian mereka sehari-hari. Di sini, seorang anak pasif bisa menjadi agresif, anak yang sulit mendapat teman tiba-tiba mampu berteman atau memimpin pasukan.

Mereka bahkan bisa melampiaskan kebrutalan mereka di dunia maya tanpa konsekuensi yang nyata. Jangan heran jika ada anak yang kesulitan berteman di dunia nyata ternyata sangat mudah bergaul dan mendapatkan teman di dunia maya karena di sini mereka bisa berinteraksi tanpa harus bertatap muka.

Menurut para dokter yang meneliti kecanduan video game, alasan seseorang bisa ketagihan bermain game adalah karena game tersebut sengaja dirancang agar pemainnya semakin sering bermain game.

1. Pemain butuh menghabiskan banyak waktu dan energi untuk menciptakan sebuah karakter dan persona virtual mereka. Game tersebut memang dirancang agar mereka ‘menginvestasikan’ banyak waktu dan usaha untuk memperluas karakter dan kemampuan mereka.

2. Belum lagi pemain difokuskan untuk mendapatkan senjata baru atau score yang tinggi, ini akan membuat pemain enggan berhenti bermain sebelum mereka memenuhi target mereka. Tentu saja, begitu target tercapai, selalu ada target yang lebih besar berikutnya, dan berikutnya.

3. Game multiplayer online memang dirancang untuk interaktif agar pemain bekerja sama untuk mencapai tugas tertentu. Karena itu pemain merasa tidak dapat meninggalkan permainan sebelum memenuhi kewajiban untuk tim mereka.

4. Daya tarik lainnya dari game tersebut adalah aspek sosial. Di dunia game online tersebut mereka bisa menjadi siapa saja sesuai yang mereka inginkan, dan relatif mudah untuk meningkatkan karakter. Masalahnya adalah mereka kesulitan belajar bersosialisasi di dunia nyata, khususnya buat mereka yang memang kesulitan berteman.

5. Candu lainnya yang menarik adalah game ini bisa dijadikan sebagai pelarian dari masalah-masalah di dunia nyata. Tentu saja hal ini merupakan pengaruh negatif karena lebih banyak menghabiskan waktu bermain game ketimbang menyelesaikan masalah yang dihadapi.

***

Berikut adalah beberapa gejala kecanduan game. Jika gejala di bawah ini ternyata banyak yang menimpa anak Anda, maka waspadalah..

- anak lebih banyak menghabiskan waktu bermain game pada jam-jam di luar sekolah
- tertidur di sekolah
- sering melalaikan tugas
- nilai di sekolah jeblok
- berbohong soal berapa lama waktu yang sudah dihabiskan untuk ngegame
- lebih memilih bermain game daripada bermain dengan teman
- menjauhkan diri dari kelompok sosialnya (klub atau kegiatan ekskul)
- merasa cemas dan mudah marah jika tidak ngegame

Sementara gejala-gejala fisik yang bisa menimpa seseorang yang kecanduan game antara lain:
- Carpal tunnel syndrome (gangguan di pergelangan tangan karena saraf tertekan, misalnya jari-jari tangan menjadi kaku)
- mengalami gangguan tidur
- sakit punggung atau nyeri leher
- sakit kepala
- mata kering
- malas makan / makan tidak teratur
- mengabaikan kebersihan pribadi (misal: malas mandi)

Sumber: dirangkum dari berbagai sumber

[dew / Internet Sehat]

6 Alasan Kenapa Anak Boleh-boleh Saja Ngegame


Sebagai orang tua kadang kita berpikir bahwa bermain video game cuma membuang-buang waktu saja. Walhasil kita pun melarang anak kita bermain game. Benarkah begitu?

Ternyata nggak juga lho… Tidak selamanya bermain video game itu merusak anak. Memang kalau mainnya berlebihan (tidak kenal waktu), pastinya bisa saja jadi kecanduan. Sekedar informasi, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa bermain video game bisa jauh lebih besar manfaatnya daripada negatifnya. Dengan catatan bermainnya harus diawasi dan dijadwalkan.

Beberapa video game ada yang dirancang untuk melatih otak, ada juga yang melibatkan aktivitas fisik sampai kita keringatan seperti bermain Nintendo Wii. Haruskah anak kita wajibkan bermain di luar saja daripada di depan layar? Jawabnya ya tergantung. Karena itu bikinlah kesepakatan dengan anak tentang batas waktu bermain game, dan game mana saja yang boleh ia mainkan. Intinya harus seimbang antara bermain game dan bermain di lingkungan nyata.

Nah beberapa alasan mengapa anak boleh-boleh saja nge-game (beberapa jam dalam seminggu) adalah:

1. Video games melatih problem solving
Bermain video game membuat anak-anak berpikir. Ada puluhan video game yang secara khusus dirancang untuk pembelajaran. Misalnya game tembak menembak yang mengajarkan anak untuk berpikir logis dan memproses sejumlah data dengan cepat.

2. Melatih interaksi sosial
Banyak game yang bisa dimainkan secara online dan offline. Nah disini terdapat unsur komunitas yang dapat mendorong anak untuk berinteraksi sosial.

3. Memberi penguatan yang positif
Secara umum sebuah video game dirancang agar para pemainnya bisa berhasil mencapai target tertentu dan mereka akan mendapat reward atas kesuksesan target yang dicapainya itu. Adanya tingkat keterampilan yang berbeda dan budaya risk-and-reward akan melatih anak untuk tidak takut gagal dan berani mengambil peluang untuk mencapai tujuan mereka.

4. Melatih anak berpikir strategis
Video game dapat mengajarkan anak untuk berpikir obyektif tentang game itu sendiri dan kinerja mereka. Meskipun ada banyak game strategi, kebanyakan game dirancang agar gamer dapat melakukan banyak cara untuk mencapai tujuan. Pemain akan mendapatkan umpan balik terhadap keputusan mereka dan dengan cepat mempelajari kekuatan dan kelemahan mereka sendiri.

5. Melatih anak membangun jaringan (network)
Sebagian besar video game dirancang dengan berbagai pilihan bermain yang kooperatif. Apakah itu melawan alien, memecahkan puzzle, atau berada di tim yang sama. Karena itu video game menawarkan anak-anak banyak kesempatan untuk bekerja sama secara konstruktif.

6. Membantu meningkatkan koordinasi tangan-mata
Bermain video game ternyata dapat meningkatkan keseimbangan dan koordinasi banyak pasien stroke. Bahkan ada penelitian yang menunjukkan bahwa ahli bedah yang rutin bermain video game ternyata dapat meminimalisir kesalahan di ruang operasi daripada non-gamer. Jadi game juga melatih koordinasi tangan-mata.

[dew / Internet Sehat]

Kamis, 22 September 2011

10 Kiat Agar Ponsel Murid dan Anak Tidak Digerogoti Konten Porno

Peredaran konten seksual di ponsel bisa ‘meracuni’ siapa saja, tak terkecuali anak-anak atau murid-murid. Sebelum pikiran buah hati kita menjadi tercemar dengan kata-kata atau gambar tak senonoh tersebut, ada baiknya para orang tua dan guru membantu memagari mereka.

Bagi Orang Tua / Guru :

  1. Mulailah memberi pengertian kepada anak/murid tentang fenomena penyebaran konten porno via ponsel. Namun bukan berarti Anda lantas menghardik mereka. Intinya adalah jalin komunikasi awal yang baik dan nyaman dengan si anak/murid.
  2. Jika anak/murid Anda kedapatan memiliki atau saling berkirim konten porno via ponselnya, segera suruh mereka hentikan hal itu. Jelaskan kepada mereka bahwa memiliki atau menyebarkan konten seksual lewat ponsel merupakan pelanggaran hukum dan berisiko terhadap sesuatu yang tidak baik.
  3. Usahakan tidak membelikan ponsel yang canggih atau multimedia kepada Anak. Semakin canggih ponselnya, semakin mudah konten-konten yang tidak sepantasnya masuk dan tersimpan rapi di ponsel tersebut.
  4. Anda juga harus tetap mengikuti perkembangan teknologi. Situs sosial dan software/aplikasi jejaring sosial apa yang tengah digandrungi dan diinstal/terinstal di ponsel murid/anak dan pelajari ancaman-ancamannya.
  5. Lakukan razia isi ponsel secara berkala. Razia berhak dan bisa dilakukan oleh pihak sekolah dari kelas ke kelas, atau dengan melarang ponsel masuk ke dalam kelas dan mengumpulkan/menitipkannya di ruang tertentu agar mudah diperiksa secara acak. Razia juga berhak dan bisa dilakukan oleh orangtua ketika di rumah, apalagi jika memang ponsel dan biaya pulsa anak masih ditanggung oleh orangtua.

-

Bagi Anak / Murid :

  1. Jika mendapat foto/kalimat porno di ponsel, jangan lantas menyebarkannya ke orang lain meskipun ke teman-teman dekat Anda. Mungkin pada awalnya mereka melakukan itu karena iseng, tapi ulah iseng-isengnya itu bisa menjadi senjata makan tuan suatu saat nanti. Seperti tertangkap saat razia di sekolah atau lainnya.
  2. Jangan takut untuk menjalin komunikasi dengan orang tua atau sosok yang lebih dewasa lain mengenai masalah konten porno via ponsel ini. Yakinkan para orang tua bahwa mereka tidak perlu paranoid .
  3. Jika mendapat konten porno dari teman atau orang yang Anda kenal, berilah pengertian bahwa perbuatan mereka itu berbahaya dan melanggar hukum.
  4. Jika aksi nakal teman Anda tersebut masih belum berhenti, ada baiknya jika Anda dengan orang tua ataupun guru berbicara langsung dengan orang tua anak tersebut.
  5. Jangan menyimpan materi tak senonoh (pornografi, sadisme, dll) apapun di dalam ponsel Anda. Langsung hapus seketika ketika Anda menerimanya dari manapun, disengaja ataupun tidak!

Sumber: diolah dari detikINET dan Connect Safely by

Do & Don’t, Aturan Facebook-an untuk Guru

Jejaring sosial, entah itu Facebook atau Twitter dan situs-situs lain seperti YouTube atau layanan Skype sangat akrab dengan anak muda. Bagi guru hal ini bisa dimanfaatkan untuk menjalin hubungan baik dengan murid dan membantu mereka dalam mengerjakan tugas sekolah.

Akan tetapi harus diingat, tidak semua hal boleh dilakukan di Facebook. Ini untuk menghindari kejadian tidak mengenakkan dan agar hubungan guru-murid tetap terjaga. Berikut sejumlah tips yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh guru saat ber-Facebook ria.

Do:

  • Pisahkan halaman (page) Facebook pribadi Anda dengan halaman yang Anda buat sebagai seorang guru.
  • Jika murid Anda ingin berteman dengan Anda di Facebook, tempatkan di halaman guru.
  • Postinglah foto-foto tentang sekolah/pelajaran/perjalanan. Hal ini akan mengingatkan murid akan hal-hal yang terkait dengan sekolah.
  • Buat group untuk kelas yang Anda ajar. Dengan group tersebut, doronglah murid-murid untuk bertanya mengenai PR sekolah. Bantu mereka dengan mengadakan diskusi dan group wall. Identitas dan rasa memiliki sangat penting dalam proses belajar.
  • Pastikan group yang Anda buat tertutup, sehingga orang harus me-request dulu sebelum bergabung di group tersebut. Dengan langkah ini, Anda bisa memilih dengan bijak siapa-siapa saja yang boleh bergabung.
  • Bergabunglah dengan group-group lain yang terkait dengan sekolah. Hal ini bisa membuat Anda mengetahui apa yang diposting oleh para murid.
  • Postingan yang Anda buat sebaiknya bernilai positif.
  • Gunakan layanan status untuk menginformasikan para murid tentang kebijakan di sekolah.
  • Bermain game-game sederhana bersama para murid di Facebook bisa mempererat hubungan guru-murid.
  • Jika murid Anda ada yang berulang tahun, jangan segan-segan mengucapkannya di Facebook. Ini menunjukan kepedulian Anda.

Don’t:

  • Jangan ngobrol di FB chat untuk menghindari tuduhan yang tidak mengenakkan. Selain itu Anda tidak bisa menyimpan jejak chat yang Anda lakukan.
  • Jangan meng-add murid-murid Anda duluan.
  • Jangan mengirimkan pesan (message) pada mereka kecuali untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Pastikan semuanya terbuka dan bisa dibaca siapa saja. Jika mereka mengirimi Anda pesan di message, balas saja di wall.
  • Jangan melihat foto-foto murid-murid Anda kecuali profile picture. Jika Anda melihat foto yang tidak pantas dan melaporkannya maka hal ini akan merusak hubungan Anda dengan murid. Facebook bukanlah tempat untuk memonitor, dekati murid secara personal untuk memberitahukannya.
  • Jejaring sosial di sekolah bukan ajang untuk kritik. Dengan kehadiran Anda sebagai guru, usahakan untuk merepresntasikan kepemimpinan dan moral.

Sumber: Heppell [dew]

Kamis, 15 September 2011

Facebook Berpengaruh Besar dalam Hidup Remaja Perempuan


[Internet Sehat] Keberadaan Facebook ternyata memiliki arti yang sangat penting bagi remaja perempuan. Bisa dikatakan, Facebook tak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka karena pengaruhnya yang sangat besar.

Pengaruh yang diberikan oleh situs jejaring besutan Mark Zuckerberg ini lebih besar dibandingkan media lain. Data ini mengacu pada sebuah survey yang dilakukan oleh National Family Week, MSPCC dan Women’s Institute di Inggris pada bulan April 2010.

Survey yang diadakan pada 3.000 orang tua dan 1.000 anak berusia antara 8-15 tahun ini menemukan fakta bahwa sebanyak 40% remaja perempuan menjadikan Facebook sebagai salah satu dari 3 hal terpenting dalam kehidupan mereka. Angka ini jauh lebih besar dari remaja laki-laki yang hanya mencapai angka 6% saja.

Survey ini memperlihatkan betapa Facebook sangat krusial bagi kehidupan sosial mereka. Remaja perempuan ini melihat bahwa Facebook lebih berpengaruh dibandingkan hal lain seperti televisi, majalah, artis bahkan saudara sendiri. Dan ketika ditanya mengenai 3 hal terpenting dalam kehidupan mereka, 3 pilihan paling atas yang disebutkan oleh remaja perempuan ini adalah teman, keluarga dan Facebook.

Sedang bagi remaja laki-laki, keluarga menjadi pilihan yang jauh lebih penting. Sebanyak 73% remaja laki-laki memilih keluarga, angka yang lebih tinggi dibanding dengan remaja perempuan yang hanya 53% dari mereka yang memilihnya. Bagi cowok, situs jejaring sosial tidak terlalu penting bagi mereka, hanya 6% saja yang memilihnya. Bandingkan dengan 40% remaja perempuan yang menjawab bahwa situs jejaring social itu penting.

Remaja perempuan juga diketahui percaya bahwa teknologi dalam bentuk situs jejaring dan ponsel, berpengaruh besar dalam kehidupan mereka, terutama yang hidup dengan single mother. Remaja perempuan menyebutkan 3 pengaruh besar dalam kehidupan mereka ialah orang tua, guru dan teknologi, di mana remaja laki-laki menyebutkan keluarga, teman dan sekolah.

Angka-angka yang keluar dari penelitian ini tentunya bertentangan dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh Facebook di mana mereka melarang anak-anak di bawah usia 13 tahun untuk mendaftar di Facebook.

Melihat hasil di atas, survey tersebut mengklaim bahwa orang tua telah gagal dalam menjaga anaknya dalam hal penggunaaan teknologi dan memandang remeh keberadaan teknologi dalam kehidupan anak-anaknya. Nah, Anda tidak ingin menjadi bagian dari para orang tua tersebut bukan? Jadi usahakan untuk selalu mengontrol buah hati Anda agar mereka tetap dalam kadar yang sewajarnya terkait pemakaian teknologi dan situs jejaring. [Internet Sehat]

Sumber: BBC[dew]

7,5 Juta Pengguna Facebook Masih di Bawah Umur


Tahukah Anda bahwa jutaan pengguna Facebook ternyata adalah anak-anak di bawah umur yang seharusnya tidak ‘diijinkan’ Facebookan? Mengacu pada survey yang digelar oleh Consumer Reports, dari 20 juta remaja yang aktif Facebook-an, 7,5 juta di antaranya berusia di bawah 13 tahun dan yang berusia di bawah 10 tahun memiliki jumlah sebanyak lebih dari 5 juta anak. Ironisnya, Facebook sendiri mengeluarkan kebijakan bahwa penggunanya haruslah mereka yang berusia 13 tahun ke atas saja.

Studi lainnya yang dilakukan McAfee pada 2010 menemukan bahwa 37 persen anak berusia 10 hingga 12 tahun sudah memakai Facebook. Sementara studi yang dirilis pada bulan April dari London School of Economics EU Kids Online mengungkapkan bahwa 38 persen anak-anak Eropa berusia 9 hingga 12 tahun merupakan pengguna aktif situs jejaring sosial, di mana satu dari lima diantaranya memakai Facebook.

Survey tersebut dan survey-survey yang digelar oleh pihak-pihak lain dengan hasil serupa tentu saja mengundang keprihatinan karena ternyata sebagian besar orang tua tidak terlalu memperhatikan hal ini. Penggunaan Facebook oleh anak-anak tanpa pengawasan dan edukasi yang baik akan membawa anak-anak dan bahkan anggota keluarga lainnya ke risiko keamanan hingga privasi. Masih menurut Consumer Reports, di tahun lalu sebanyak lebih dari 5 juta keluarga di Amerika mengalami kasus-kasus seperti infeksi virus, pencurian identitas dan bullying akibat penggunaan Facebook.

Tak kurang akal pihak Facebook memerangi pembohongan umur yang dilakukan anak-anak saat mendaftar di situs jejaring populer ini meskipun disadari solusinya tidak gampang. Salah satu cara yang dilakukan ialah dengan memakai cookie yang akan mendeteksi tahun kelahiran si pendaftar. Jika diketahui usia mereka di bawah 13 tahun, maka Facebook akan mencegah mereka untuk mendaftar. Facebook juga memakai laporan yang masuk dari user dalam melacak pengguna di bawah umur untuk kemudian menghapus akunnya. Akan tetapi pihak Facebook sendiri serta para ahli mengakui, cara-cara tersebut jauh dari sempurna.

Mengetahui sulitnya mengatasi pembohongan umur para pendaftar Facebook dan mencegah anak-anak di bawah usia 13 tahun untuk tidak memiliki akun, banyak yang menganjurkan bahwa edukasi pada anak-anak adalah langkah pengaman yang tepat. Facebook menganjurkan pada berbagai elemen, dari mulai orang tua, guru hingga penyedia layanan internet untuk berfokus pada hal ini demi keamanan anak-anak. Pembekalan yang matang serta komunikasi yang baik mengenai pemakaian internet dengan sehat pada anak-anak adalah sesuatu yang vital.

Facebook sendiri mengeluarkan kebijakan pelarangan user di bawah 13 tahun untuk tidak memiliki akun atas dasar hukum Children’s Online Privacy Protection Act (COPPA). Hukum tahun 2008 ini meminta situs untuk memiliki parental permission sebelum situs terkait menggunakan data yang disediakan oleh anak-anak di bawah usia 13 tahun.

Sumber: Cnet [dew / Internet Sehat]

Survei: Perlu Edukasi tentang Privasi Online di Sekolah


Layanan jejaring sosial kian menjamur. Di lain sisi, remaja terlalu banyak mengumbar data pribadinya secara online, sementara layanan jejaring sosial dinilai belum mampu melindungi privasi mereka.

Demikian hasil survey online yang dirilis Common Sense Media, dengan melibatkan 2.100 orang dewasa antara 13 – 16 Agustus serta 401 orang remaja berusia 15 – 18 tahun antara 18 – 20 Agustus lalu.

Dari survey terungkap bahwa 92 persen orangtua berpendapat bahwa anak mereka terlalu banyak mengumbar informasi pribadi di internet. Tiga dari empat orangtua menilai bahwa layanan jejaring sosial belum mampu melindungi privasi anak. Mayoritas orangtua merasa bahwa mesin pencari dan jejaring sosial tidak perlu men-share lokasi fisik seorang anak kecuali jika orangtuanya sudah menyetujuinya.

Hanya setengah dari orangtua yang disurvei mengaku bahwa mereka membaca “term of service” sebuah website, meskipun sebagian besar mengaku akan membacanya jika tulisannya lebih pendek dan jelas. Dan 69 persen orangtua menilai bahwa privasi online seharusnya menjadi tanggung jawab bersama baik individu maupun perusahaan online.

Dari sisi anak, 79 persen remaja menilai bahwa teman-teman mereka terlalu banyak membagi info pribadi di Web. Sebanyak 58 persen remaja takut kalau mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan atau masuk ke sekolah favorit mereka jika mengumbar informasi pribadi terlalu banyak di internet. Sekitar 70 persen remaja mengaku proaktif melindungi privasi online mereka dengan memanfaatkan pengaturan privasi.

Sebagai solusinya, berdasarkan hasil survey, 60 persen mengatakan pemerintah perlu memperbarui undang-undang privasi online untuk anak-anak dan remaja. Hampir 90 persen menyatakan akan mendukung undang-undang yang mengharuskan perusahaan-perusahaan online harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu sebelum menggunakan informasi pribadi anak untuk tujuan pemasaran.

Selain itu, para orangtua menganggap perlunya edukasi tentang privasi online. Hasil survey mengatakan 70 persen orangtua berharap agar sekolah dapat mengajarkan muridnya tentang pentingnya menjaga privasi online.

Berikut ini beberapa saran untuk orang tua terkait menjaga privasi anak, antara lain:
* Pastikan anak selalu menggunakan pengaturan privasi sehingga mereka tidak mudah dicari di Facebook dan jejaring sosial lainnya.
* Beritahu anak agar tidak mengumbar lokasi tempat tinggal mereka di situs-situs seperti Foursquare, karena ini bisa mengekspos anak untuk dieksploitasi orang asing.
* Ingatkan anak untuk tidak sembarangan mengisi kuesioner, mengikuti kontes online, mengisi form dengan iming-iming hadiah gratis. Sebab, meski tidak semuanya, teknik ini banyak dipakai semata-mata untuk mengambil informasi pribadi untuk alasan pemasaran.
* Selalu review tawaran, form, dan halaman login apapun yang mengharuskan anak menginputkan informasi pribadi.

Sumber: Cnet [dew / Tim Internet Sehat]

Jumat, 29 April 2011

PRAKTEK PATUNG KERTAS











Salah satu pelajaran dasar di tingkat Taman kanak kanak disamping kemampuan klognitif adalah pelatihan motorik, psikomotorik siswa siswi, untuk itu diTK DAPENA pendidikan dasar kognitif, motorik dan psikomotorik dikembangkan dalam wujud peningkatan kreatifitas bagi siswa siswi dalam membuat patung kertas, meliputi pembuatan bahan dasar, pembetukan serta pewarnaan. dengan tujuan kemampuan kognitif, motorik, psikomotorik ditunjang kreatifitas siswa lebih berkembang

OUTBOND TK DAPENA - 2011



















Sebagai salah satu pelaksanaan program pendidikan sekolah, TK DAPENA Surabaya mengadakan program Outbond bagi siswa siswi beserta orang tua bertempat di Waterland Mojokerto, dengan tujuan pengembangan pribadi dan kemandirian anak baik secara individu maupun dalam berinteraksi dengan teman, guru dan orang tua, dalam kesempatan ini acara yang dikuti meliputi permainan yang melibatkan anak pribadi, anak bersama teman, anak dan guru beserta orang tua.

Rabu, 27 April 2011

STUDY WISATA - SD DAPENA 2011











PUSAT PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP Seloliman Trawas Mojokerto - 2011
siswa siswi kelas VI - SD DAPENA Surabaya
Refreshing setelah belajar menjelang UNAS 2011
sambil belajar alam sekitar dan lingkungan hidup

Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH)

Alamat : Desa Seloliman - Trawas, Mojokerto
Telepon : (0321) 618752, 618754
E-mail : pplh@sby.centrin.net.id

Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang didirikan pada tahun 1988 dengan tujuan menyediakan program, tenaga serta fasilitas dalam upaya mendidik, meningkatkan kesadaran dan memotivasikan perilaku masyarakat Indonesia tentang lingkungan. Sebagai lembaga yang non profit, non komersial, dan mandiri, PPLH bergerak dari bawah untuk membantu proses pembangunan yang sehat, bersahabat dengan alam dan berkelanjutan. Tema yang akan menjadi fokus setiap PPLH sangat tergantung pada kebutuhan masyarkat, dari potensial lokasi dan kepentingan nasional. Fasilitas dan program yang berfokus pada salah satu diantara topik dibawah ini : Pertanian , hutan, ekologi kelautan, kesehatan masyarakat, pemukiman dan lalu lintas, kelestarian alam, air, energi, dan benda. PPLH saat ini berada di tiga tempat yakni di Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Bali. PPLH Trawas (Jawa Timur ) berfokus pada pendidikan " darat ", sedang PPLH Puntondo (Sulawesi Selatan) berfokus pada pendidikan "laut" dan PPLh Sanur (Bali) berfokus pada budaya, filsafat dan Urban Community. Inti dari setiap program PPLH adalah program yang bertujuan mengubah kesadaran, sikap dan perilaku masyarakat Indonesia agar Lingkungan terlestarikan dan seimbang, sehat dan berkelanjutan.
Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berbadan hukum yayasan. Visinya penyadaran Lingkungan Hidup kepada semua orang. Berdiri pada tahun 1990 dengan misi penyadaran moral dengan metode partisipatif. Kelompok sasaran yang dijangkau adalah seluruh lapisan masyarakat terutama pemuda dan anak-anak (TK sampai dengan Perguruan Tinggi, pemerintah, kelompok minat, profesi, industri). Program aktif berupa :pelatihan, seminar, lokakarya, konsultan, penerbitan (Bulletin, Buku leaflet, Newsletter, Majalah) dan pendampingan masyarakat melalui topik-topik yang sudah tersedia seperti : Ekosistem Hutan Tropis, Energi Alternatif, Landscaping. Ekologi, dan Ekonomi pedesaan, Arsitektur Lingkungan, Pencemaran, Pertanian organik, Pengelolaan sampah, dan lain-lain.