Tampilkan postingan dengan label mutasi siswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mutasi siswa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 September 2011

Survei: Perlu Edukasi tentang Privasi Online di Sekolah


Layanan jejaring sosial kian menjamur. Di lain sisi, remaja terlalu banyak mengumbar data pribadinya secara online, sementara layanan jejaring sosial dinilai belum mampu melindungi privasi mereka.

Demikian hasil survey online yang dirilis Common Sense Media, dengan melibatkan 2.100 orang dewasa antara 13 – 16 Agustus serta 401 orang remaja berusia 15 – 18 tahun antara 18 – 20 Agustus lalu.

Dari survey terungkap bahwa 92 persen orangtua berpendapat bahwa anak mereka terlalu banyak mengumbar informasi pribadi di internet. Tiga dari empat orangtua menilai bahwa layanan jejaring sosial belum mampu melindungi privasi anak. Mayoritas orangtua merasa bahwa mesin pencari dan jejaring sosial tidak perlu men-share lokasi fisik seorang anak kecuali jika orangtuanya sudah menyetujuinya.

Hanya setengah dari orangtua yang disurvei mengaku bahwa mereka membaca “term of service” sebuah website, meskipun sebagian besar mengaku akan membacanya jika tulisannya lebih pendek dan jelas. Dan 69 persen orangtua menilai bahwa privasi online seharusnya menjadi tanggung jawab bersama baik individu maupun perusahaan online.

Dari sisi anak, 79 persen remaja menilai bahwa teman-teman mereka terlalu banyak membagi info pribadi di Web. Sebanyak 58 persen remaja takut kalau mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan atau masuk ke sekolah favorit mereka jika mengumbar informasi pribadi terlalu banyak di internet. Sekitar 70 persen remaja mengaku proaktif melindungi privasi online mereka dengan memanfaatkan pengaturan privasi.

Sebagai solusinya, berdasarkan hasil survey, 60 persen mengatakan pemerintah perlu memperbarui undang-undang privasi online untuk anak-anak dan remaja. Hampir 90 persen menyatakan akan mendukung undang-undang yang mengharuskan perusahaan-perusahaan online harus mendapatkan persetujuan terlebih dahulu sebelum menggunakan informasi pribadi anak untuk tujuan pemasaran.

Selain itu, para orangtua menganggap perlunya edukasi tentang privasi online. Hasil survey mengatakan 70 persen orangtua berharap agar sekolah dapat mengajarkan muridnya tentang pentingnya menjaga privasi online.

Berikut ini beberapa saran untuk orang tua terkait menjaga privasi anak, antara lain:
* Pastikan anak selalu menggunakan pengaturan privasi sehingga mereka tidak mudah dicari di Facebook dan jejaring sosial lainnya.
* Beritahu anak agar tidak mengumbar lokasi tempat tinggal mereka di situs-situs seperti Foursquare, karena ini bisa mengekspos anak untuk dieksploitasi orang asing.
* Ingatkan anak untuk tidak sembarangan mengisi kuesioner, mengikuti kontes online, mengisi form dengan iming-iming hadiah gratis. Sebab, meski tidak semuanya, teknik ini banyak dipakai semata-mata untuk mengambil informasi pribadi untuk alasan pemasaran.
* Selalu review tawaran, form, dan halaman login apapun yang mengharuskan anak menginputkan informasi pribadi.

Sumber: Cnet [dew / Tim Internet Sehat]

Rabu, 22 Desember 2010

Hari Ibu di Indonesia - 2010



M - O - T - H - E - R

"M" is for the million things she gave me,

"O" means only that she's growing old,

"T" is for the tears she shed to save me,

"H" is for her heart of purest gold;

"E" is for her eyes, with love-light shining,

"R" means right, and right she'll always be,

Put them all together, they spell

"MOTHER,"

A word that means the world to me.
Howard Johnson (c. 1915)

Kasih Ibu

Kasih Ibu, kepada beta

Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi, tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia



Kamis, 29 Juli 2010

Pemasaran vs. Penjualan --- perlu diketahui perbedaanya ?????






Perbedaan Antara Pemasaran dan Penjualan

Banyak orang dan beberapa ekskutif bisnis belum memahami perbedaan antara penjuaaln dan pemasran. Banyak orang berfikir bahwa kedua istilah itu sama. Padahal masing-masing mempunyai konsep yang berbeda.

Di bawah konsep penjualan, sebuah perusahaan membuat produk dan kemudian mendayagunakan aneka metode penjualan untuk membujuk konsumen membeli produknya. Ini berarti bahwa perusahaan mengarahkan permintaan konsumen agar sesuai denngan supply yang diajukan. Sebaliknya dibawah konsep pemasaran perusahaan menjajaki apa yang diinginkan oleh konsumen dan kemudian berusaha mengembangkan produk yang akan memuaskan keinginan konsumen dan sekaligus memperoleh laba. Disini perusahaan menyesuaikan supply mereka untuk memenuhi permintaan konsumen.

Mengelola Sistem Pemasaran

Sebuah perusahaan harus merencanakan, melaksankan dan menilai system pemasarannya. Artinya, orgnisasi harus mengelola
(me-manage) upaya pemasarannya dengan efektif. Sebuah program pemasaran yang efektif penting bagi kesejahteraan sebuah perusahaan, siapa yang bertanggung jawab? Tidak lain adalah ppihak manajemen perusahaan. Keberhasilan sebuah perusahaan tergantung sepenuhnya pada mutu manajemennya.

Proses Manajemen

Proses manajemen yang diterapkan di pemasaran pada dasarnya terdiri dari :
1. perencanaan sebuah program perencanaan
2. pelaksanaannya
3. penilaian serta evaluasi atas prestasinya.

Tahap perencanaan menetapkan tujuan dan memilih strategi serta taktik untuk mencapinya. Tahap pelaksanaan mencakup pembentukan organisasi pemasaran dan pengisian stafnya serta pengarahan jalannya operasi agar sesuai dengan rencana. Tahap penilaian prestasi adalah contooh yang bagus dari proses manajemen yang saling berkaitan dan memiliki sifat dasar bersinambung. Artinya, penilaian adalah peninjauan ke belakang dan peninjauan ke depan sekaligus, yaitu sebuah banang merah antara prestasi pada waktu silam dan perencanaan serta operasi pada masa yang akan datang.

Penjualan

Pemasaran

  1. tekanan pada produk
  2. perusahaan pertama-tama membuat produk dan kemudian mereka-reka bagaimana menjualnya.

  1. manajemen berorientasi ke volume penjualan.
  2. perencanaan berorientasi
  1. tekanan pada keinginan konsumen
  2. perusahaan pertama-tama menentukan apa yang diinginkan konsumen dan kemudian mereka-reka bagaimana membuat dan menyerahkan produknya untuk memenuhi keinginan itu.
  3. manajemen berorientasi ke laba usaha.
  4. perencanaan berorientasi ke hasil jangka panjang, berdasarkan produk-produk baru, pasar hari esok, dan pertumbuhan yang akan datang.

http://catatan-ti.blogspot.com/2009/05/perbedaan-antara-pemasaran-dan.html

Selasa, 25 Mei 2010

Faktor Psikologik dan Kadar Stres




Faktor Psikologik dan Kadar Stres


Stres mungkin merupakan fakta dalam kehidupan kita, tetapi bagaimana kita menghadapi stres dapat menentukan bagaimana cara kita mengatasi stres tersebut.

Reaksi seseorang terhadap stres bersifat individual, tergantung dari faktor psikologik seperti makna yang diterapkan pada stres yang sedang dihadapinya. Misalnya, kondisi kehamilan yang merupakan kejadian yang berarti dalam kehidupan suatu perkawinan sangat ditentukan oleh seberapa besar hasrat kedua pasangan akan kehadiran anak sehingga kehamilan akan menjadi stres yang negatif bila kedua pasangan belum memiliki hasrat yang cukup untuk punya anak, tentunya.

Namun, stres tersebut menjadi sangat positif bila dihadapi oleh pasangan perkawinan yang sudah bertahun berharap memiliki anak kandung. Faktor psikologik lainnya yang juga berperan dalam menjadikan stres menjadi lebih ringan adalah bagaimana gaya penyelesaian masalah seseorang, kekerasan pribadinya, optimisme, dukungan sosial yang diperolehnya.

Gaya penyelesaian masalah

Apa yang kita lakukan saat kita menghadapi masalah yang sulit? Gaya penyelesaian yang manakah yang cocok dengan pribadi kita?

Berpura-pura tidak ada masalah adalah gaya seseorang dalam penyelesaian masalah dengan cara melarikan diri dari kenyataan/masalah. Melarikan diri dari masalah adalah gaya penyelesaian yang bermuatan emosi, dengan cara mengabaikan keberadaan stres, berbuat seolah tak terjadi stres atau keluar dari situasi yang menyebabkan stres.

Dengan demikian, seseorang merasa bahwa dirinya tidak menghadapi stres tersebut. Tentu saja gaya ini tidak membuat orang tersebut keluar dari masalahnya, tetapi justru kondisi mentalnya sama dengan orang yang terkena penyakit yang serius, tetapi tidak berusaha mendapatkan obat untuk menyembuhkan penyakitnya tersebut.

Dalam gaya penyelesaian yang terfokus pada masalah, seseorang akan dengan sendirinya mencermati stres yang dihadapi dan kemudian berupaya mendapatkan cara yang terbaik dalam mengatasi stres akibat penyakit yang dideritanya. Mereka dapat memodifikasi reaksi terhadap stres tersebut sehingga secara bertahap menurunkan kadar stres menjadi stres yang tidak lagi memberikan ancaman yang serius bagi dirinya.

Kedua jenis gaya dasar dalam penyelesaian masalah itu dapat diterapkan pada cara seseorang menghadapi penyakit yang dideritanya.

Bila seseorang menolak kenyataan akan penyakit yang diderita, variasi perilaku sebagai akibat dari penolakan tersebut adalah sebagai berikut ini:
- Gagal mengenali gejala penyakit yang sebenarnya sangat serius akibatnya,

- Meminimalisasikan emosi negatif yang disebabkan oleh penyakit yang diderita

- Mengabaikan informasi yang mengancam tentang penyakit yang diderita.

Pengabaian penyakit yang diderita sangat membahayakan kesehatan kita, terutama bila sikap tersebut mengarahkan diri kita untuk tidak patuh terhadap perawatan medis yang disarankan dokter yang merawatnya.

Terdapat hasil penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang memiliki gaya penyelesaian dengan cara menolak kenyataan yang dihadapi, seperti mencoba untuk tidak memikirkan dan membicarakan penyakit yang dideritanya, ternyata memperlihatkan peningkatan progresif dari penyakitnya bila dievaluasi dibandingkan dengan orang yang lebih mendapatkan konfrontasi langsung tentang penyakit yang dideritanya. (Eping, et.al, 1994).

Seperti halnya upaya pengabaian penyakit, penolakan terhadap kenyataan menderita penyakit akan diikuti oleh ketidakpatuhan terhadap aturan pengobatan yang disarankan dokter yang merawat. Hal ini tentu saja memperburuk kondisi kesehatan penderita. Penolakan akan kenyataan menderita suatu penyakit juga memengaruhi peningkatan distres emosional yang menimbulkan kerusakan fungsi imunologik.

Jadi, mengapa kita tidak memilih gaya penyelesaian yang berpusat pada problem agar kita dapat mengatasi penyakit yang kita derita dengan hasil seoptimal mungkin demi pemulihan kesehatan fisik kita sendiri?

Oleh Sawitri Supardi Sadarjoen
Sumber : www.kompas.com

Rabu, 10 Maret 2010

PENERIMAAN SISWA BARU tp. 2010 - 2011





PENERIMAAN SISWA BARU SEKOLAH DAPENA - TP. 2010 -2011

info pendaftaran :

PG/TK   :   031-5634475

SD         :   031-5678228

SMP       :   031-5035535

SMA       :   031-5031453