Tampilkan postingan dengan label Pengembangan diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan diri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Juni 2010

Disiplin Tepat, Anak Jadi Kreatif

Disiplin Tepat, Anak Jadi Kreatif


ImageBagaimana menerapkan disiplin yang tepat untuk menciptakan anak yang kreatif? Menurut Elizabeth Hurlock dalam bukunya,Perkembangan Anak, ada tiga cara penanaman disiplin di rumah. Pertama disiplin otoriter, kedua displin permisif, dan ketiga disiplin demokratis. Pola seperti apa yang paling tepat untuk membentuk anak kreatif?

1. Disiplin otoriter
Pada disiplin model ini, orangtua memberikan aturan yang harus dipatuhi tanpa ada penjelasan. Jika tidak, ia akan dihukum. Hukuman juga dianggap cara terbaik agar anak menjadi taat dan disiplin. Di sisi lain, orangtua kerap mengabaikan penghargaan bila anak berperilaku positif.

Dampaknya, hubungan antara orangtua dan anak kurang harmonis. Anak takut dan tertekan, bahkan ia akan kehilangan inisiatifnya untuk berkreasi. Kurangnya penghargaan juga membuat anak malas berkreasi, alias kreativitasnya mandek.

2. Disiplin permisif
Tipa disiplin seperti ini ditandai dengan adanya kebebasan tanpa batas kepada anak untuk berbuat dan berperilaku sesuai keinginan anak. Tidak ada aturan dan arahan kepada anak. Orangtua seperti ini juga tidak peduli terhadap perilaku anaknya sehingga mereka tidak pernah atau tidak mengontrol sikap dan kurang memberi bimbingan.

Memang kebebasan sesuai dengan konsep kreativitas. Namun, kreativitas tidak berarti bebas tanpa batas. Jika ini sudah terjadi, anak akan kehilangan inisiatif dan kreativitasnya. Sebab, di satu sisi anak bereksplorasi sendiri, tetapi di sisi lain bila tidak diserati dengan penghargaan atas pencapaian sesuatu, lama-lama anak menjadi malas berkreasi.

3. Disiplin demokratis
Model disiplin yang satu ini menekankan hak anak untuk mengetahui mengapa sebuah aturan dibuat, selain anak memperoleh kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya sendiri dan menghilangkan hukuman fisik. Sementara perilaku positif atau sesuai dengan harapan dihargai, baik dengan pemberian pengakuan sosial maupun pujian.

Orangtua memberikan kesempatan dan dorongan disertai feedback yang memadai untuk setiap kreasi yang dibuat oleh anak. Penghargaan yang diterima membuat anak bersemangat untuk terus mencoba dan memanfaatkan imajinasi yang dimilikinya. Kreativitasnya pun semakin berkembang.

Batasan yang diterapkan oleh orangtua juga membuat anak memahami, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan, selain membantu anak memiliki komitmen terhadap tugas atau hal yang sedang dikerjakannya.

Selasa, 24 November 2009

PERKEMAHAN RABU KAMIS - SMP DAPENA 1






Untuk Mengisi kegiatan tengah semester ganji tahun pelajaran 2009 - 2010, SMP DAPENA 1 mengadakan kegiatan pengembangan diri dan ketrampilan siswa dalam kegiatan PRAMUKA - PERAKA ( Perkemahan Rabu Kamis ) yang diadakan di Bumi Perkemahan MANAHAIM, Prigen - Pasuruan , Kegiatan yang diikuti oleh seluruh siswa - siswi, guru dan karyawan SMP DAPENA 1 kali ini mengusung tema " Mengembangkan Diri dan Meningkatkan Tali Persaudaraan dalam Kebhinekaan ". Dengan diselenggarakan acara ini diharapkan siswa - siswi SMP DAPENA 1 dalam kebhinekaan lingkungan sosial dapat lebih meningkatkan sikap sosial, kebersamaan dan persaudaraan dalam serta tenggang rasa antar teman, guru dan karyawan baik di lingkungan sekolah, rumah dan masyarakat sekitarnya masing - masing.